Menjelajah Pasar Ikan Di Ambon, Ramai dan Heboh

Pasar Mardika langsung menjadi incaran saya. Konon, pasar ini beroperasi selama 24 jam. Oleh beberapa teman, saya tetap disarankan untuk datang sebelum pukul 6 pagi.

Seperti biasa, tiap kali saya ke luar kota, saya biasa menyambangi pasar tradisional yang terdapat di kota tersebut. Bagi saya, pasar tradisional adalah sumber kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya. Dari pasar tradisional lah kita bisa membaca pola hidup masyarakat sekitarnya.

Maka, begitu pula ketika berkesempatan ke Ambon, Maluku. Pasar Mardika langsung menjadi incaran saya. Konon, pasar ini beroperasi selama 24 jam. Oleh beberapa teman, saya tetap disarankan untuk datang sebelum pukul 6 pagi. “Coba datang setengah enam pagi, sedang ramai-ramainya,” kata salah satu rekan saya. Dan benar saja, ketika saya tiba sekitar pukul 5.30, Pasar Mardika sudah ramai.

Hiruk pikuk datang tak hanya dari teriakan para pedagang menjajakan segala rupa barang, tapi juga dari angkutan umum yang seakan melakukan perang klakson, serta musik dari segala genre yang secara kencang diputar oleh beberapa penjaja dengan speaker subwoofer-nya.

Dari pinggir jalan, sudah terlihat banyak pedagang menggelar dagangannya. Bagian depan kebanyakan diisi oleh mereka yang menjual ikan asar atau ikan asap yang umumnya dari tuna. Ukurannya bervariasi dan dipajang di dalam ember plastik, dengan tusuk serta jepit bambu. Di beberapa sudut, saya temukan pula ikan roa asap yang dijajakan di sini. Ikan yang populer di Manado ini juga rupanya diolah menjadi sambal di Ambon dan acap dijadikan teman menyantap nasi kuning, sarapan favorit masyarakat lokal.

Apa yang menjadi ciri khas di pasar ikan di Indonesia Timur pada umumnya adalah teriakan mereka. “Ikan sekali mati! Ikan sekali mati!”. Rupanya, ini adalah bagaimana mereka menggambarkan kesegaran berbagai jenis seafood yang mereka jual. “Kalau di tempat lain, ikan sudah mati dipancing, masuk beku di lemari es, keluar lagi, mati lagi, masuk lagi. Ikannya mati berkali-kali! Di sini semua ikan cuma mati sekali! Tangkap, jual, langsung dimakan!”, demikian jelas seorang penjaja ikan yang saya tanyai.

Segarnya bahan-bahan ini juga yang membuat saya kerap merekomendasikan teman-teman yang hendak ke Ambon untuk menyewa rumah dengan dapur untuk bermalam di dekat pasar. Bukan karena apa, tapi supaya bisa belanja bahan-bahan maha segar ini di Pasar Mardika, kemudian langsung masak sendiri, deh!