Cerita dari Desa Les di Sudut Barat Laut Bali

Awal Mei kemarin, saya pergi ke Desa Les di bagian barat laut pulau Bali. Dari Kuta, melewati Ubud dan Kintamani, saya menempuh waktu tiga jam mengendarai mobil hingga tiba di Desa Les. Waktu yang tidak terasa lama apalagi membosankan karena pemandangan sepanjang jalan sungguhlah menyejukkan mata.

Biasanya, saat Sobat Pesona ke Bali, daerah yang sudah akrab di telinga turis adalah Sanur, Kuta, Seminyak, Ubud dan Canggu yang belakanga menjadi tempat hipster. Padahal sebenarnya masih banyak daerah lain di Bali yang juga menarik, lho, seperti Desa Les yang kaya akan hasil laut dan banyak pemandangan indah.

Awal Mei kemarin, saya pergi ke Desa Les di bagian barat laut pulau Bali. Dari Kuta, melewati Ubud dan Kintamani, saya menempuh waktu tiga jam mengendarai mobil hingga tiba di Desa Les. Waktu yang tidak terasa lama apalagi membosankan karena pemandangan sepanjang jalan sungguhlah menyejukkan mata. Setibanya di tujuan, saya ke Warung Tasik di wilayah Tejakula.

Dari jalan raya, masuk jalan kecil sekitar 400 meter. Warung Tasik ini letaknya persis di pinggir laut. Di sana, saya diberi kesempatan melihat sejumlah tinjungan yaitu alat tradisional yang digunakan untuk mengolah air laut menjadi garam. Di sana pula terdapat sebuah rumah panggung dan di bagian atas akan menjadi kamar untuk saya nantinya bermalam. Wah, menyenangkan sekali! Pemandangan dari jendela kaca besar itu langsung laut dan langit biru cerah.

Sore harinya, saya diajak ke dapur milik Jero Mangku Suci Dalam yang juga dikenal dengan nama Chef Yudi di Desa Les. Ada area meja makan yang memang biasa dipakai untuk menjamu tamu, cocok untuk kami duduk-duduk ngobrol di sana. Chef Yudi pun menjelaskan tentang bagaimana ia membuat arak tradisional, juga juruh (gula) dari buah lontar, dan eksperimennya dengan garam laut Tejakula.

Lantas, kami ke dapur untuk memasak. Malam itu, kami membuat sup kepala ikan, ikan bakar dan sambal matah. Di dapur tradisional, memasak masih menggunakan tungku dari tanah liat dengan tiga lubang di atasnya. Kayu bakar yang membara di dalam tungku bisa langsung dipakai untuk memasak tiga panci di atasnya.

“Memasak dengan kayu bakar begini hasilnya jelas beda. Kalau pakai kompor, apinya terlalu panas. Cepat matang tapi bumbu kurang meresap. Kalau pakai kayu bakar, matangnya nggak secepat masak pakai kompor, tapi rasanya jauh lebih sedap!”, jelas Chef Yudi.

Terbukti saat kami santap malam bersama, memang benar adanya! Malam itu juga, Chef Yudi berkisah bahwa di Desa Les merupakan tempatnya orang-orang Bali yang paling tua, “Bali Mula adalah orang-orang yang pertama kali ada di Bali dan kami ini masih mempertahankan budaya serta tradisi leluhur kami hingga saat ini,” kata Chef Yudi.

Keesokan harinya, pukul 6 pagi, banyak orang sudah berkumpul di pinggir laut. Sebagian kapal nelayan sudah turun membawa hasil tangkapannya. Pagi itu banyak yang mendapatkan tuna berukuran gigantik. Umumnya, mereka sudah memiliki pembeli yang akan mendistribusikan hasil tangkapan tersebut ke daerah lain di seluruh penjuru Bali.

Kunjungan saya kemarin sayangnya terlalu singkat tapi ini jadi alasan yang baik buat saya kembali. Oh ya, pulang dari sana jangan lupa membawa juruh lontar sebagai buah tangan. Juruh lontar yang bentuknya mirip gula aren cair bisa digunakan sebagai pemanis berbagai makanan dan minuman. Rasa manisnya dengan sedikit karakter masam segar, bisa memberikan sensasi baru buat santapanmu. Sobat Pesona juga bisa memilih garam laut Tejakula yang mineralnya konon lebih tinggi dibanding garam biasa. Wah, menjelajah Bali ke daerah lain ini ternyata banyak memberikan pengalaman seru, kan, Sobat Pesona?