Kisah Hidup Seekor Tedong, Dipelihara Lalu Dikorbankan

Dalam kepercayaan leluhur orang Toraja, Aluk Todolo, kerbau atau tedong merupakan kendaraan bagi “Si Mati”. Maka pada upacara kematian seorang bangsawan, banyak tedong disembelih dan tanduknya disomba atau ditempelkan bersama tanduk-tanduk lain.

Orang Toraja tak mau melupakan keberadaan leluhurnya yang diyakini datang dari laut utara. Itulah sebabnya rumah adat Toraja, yang disebut totongko, dibuat mirip perahu dan selalu menghadap ke utara. Hal yang menarik, analogi tiang layar utama perahunya yang disebut tulak somba tidak diletakkan ditengah rumah, tapi diletakkan didepan dan belakang rumah adat.

Dalam kepercayaan leluhur orang Toraja, Aluk Todolo, kerbau atau tedong merupakan kendaraan bagi “Si Mati”. Maka pada upacara kematian seorang bangsawan, banyak tedong disembelih dan tanduknya disomba atau ditempelkan bersama tanduk-tanduk lain yang sudah ditempel sebelumnya pada tulak somba sebagai persembahan untuk Puang Matua yang menciptakan manusia.

Penyembelihan hewan kurban biasanya dilakukan saat upacara penguburan besar yang dilaksanakan di dalam arena khusus untuk upacara kematian yang disebut rante. Di tengah rante, segala kegiatan upacara berlangsung. Untuk keperluan upacara, dibangunlah rumah bertingkat tempat menyimpan peti mati, menara untuk membagikan daging kerbau, dan bangunan bertingkat tempat berteduh para tamu dan kerabat yang mengelilingi arena upacara. Satu ciri khas rante adalah hadirnya sekumpulan batu tegak yang akan selalu bertambah jika ada penguburan baru. Batu tegak atau telo-telo langi’ ini juga berfungsi sebagai tiang pengikat tedong sebelum dipotong.

Bagi orang Toraja, upacara kematian merupakan suatu kesempurnaan agar jiwa “Si Mati” tidak sengsara dan bisa masuk Puya, alam peristirahatan para arwah. Kesempurnaan ini hanya bisa dicapai dengan upacara kematian yang sempurna. Jika tidak, sang arwah akan kembali ke dunia menjadi makhluk halus yang sering mengganggu manusia.

Orang Toraja juga yakin, semakin ramai upacara dan banyaknya hewan yang akan dipotong, berpengaruh pula pada kehidupan “Si Mati” di alam Puya. Maka dalam sebuah upacara kematian yang besar, tedong yang dikorbankan bisa mencapai 60 ekor bahkan lebih dari berbagai kelas atau tingkatan.

Di Tana Toraja, tedong terbagi dalam tujuh tingkatan. Tingkat pertama adalah kerbau bule yang disebut tedong bulan, tingkat ke dua kerbau abu-abu, lalu tedong todi yang mempunyai warna putih diantara tanduk, tedong pangloli yang ujung ekornya berwarna putih, tedong pudu dengan kulit berwarna hitam, tedong bonga sori dan kapila dengan badan berwarna putih dan mempunyai belang hitam pada bagian kepala dan yang tertinggi tingkat atau kelasnya adalah tedong bonga dan saleko yang berwarna putih dengan bercak warna hitam seperti bunga di sekujur tubuhnya.

Harga tedong juga dinilai dari panjang tanduk dan gemuk badannya. Selain itu, ada jenis paling mahal dan tidak termasuk dalam ke tujuh kelas diatas yaitu kerbau yang dikebiri. Kerbau ini disebut tedong balian dan tedong sambo ratuk yaitu kerbau abu-abu berbintik-bintik putih disekujur tubuhnya. Dan jangan heran jika tedong bonga sori atau kapila mencapai harga jual rata-rata cukup fantastis. Lebih dari seratus juta rupiah!

Begitulah, semua jenis tedongMereka berada dalam siklus kehidupan yang “bisa ditebak”dipotong sebagai hewan kurban, kecuali kerbau bule atau tedong bulan. Untuk itulah tedong lahir ke dunia. Untuk dipelihara, diadu, dan dikorbankan.