Menjajal Jalur Trekking Desa Adat Baduy Dalam

Budaya dan alam Banten di ujung barat pulau Jawa ini sayang dilewatkan. Berencana menjajal menyusuri terjalnya medan menuju Desa Adat Baduy Dalam? Nih, ‘contekan’ sebelum berangkat...

Trekking di kawasan Banten memberi pengalaman yang unik. Tak hanya menikmati petualangan dan cantiknya alam, tapi juga memberi pengalaman istimewa, mengenal kearifan lokal Suku Baduy Dalam. Medan trekkingnya cukup menantang, kondisi kesehatan fisik dan mental kita harus benar-benar prima. Selain itu, ada beberapa aturan yang perlu diperhatikan. Tak hanya soal perlengkapan trekking, tapi juga aturan adat di kampung Suku Kanekes tersebut.   


Menuju Desa Adat Baduy
Dari stasiun Rangkas, Desa Baduy bisa dicapai dari ke terminal Ciboleger. Selama perjalanan, kita akan melewati kontur jalanan yang menaiki dan turun bukit. Sesampai di Terminal Ciboleger, warga Baduy sudah menunggu, siap menjadi pemandu trekking menuju kampung mereka.

Kampung Baduy terbagi menjadi dua, Baduy Dalam tempat tinggal Suku Baduy Kanekes dan Baduy Luar, rumah bagi Suku Baduy Panamping. Baduy Luar adalah wilayah orang Baduy dalam yang sudah tidak diterima lagi oleh orang-orang Suku Baduy Dalam karena sudah melanggar adat atau tersentuh modernisasi.

Dari Ciboleger, kampung ini bisa dicapai setelah satu jam trekking. Kita akan disuguhkan pemandangan masyarakat dan rumah-rumah khas Baduy luar. Rumah-rumah tradisional Suku Baduy Luar mirip seperti pada Baduy Dalam. Rumah-rumah ini dibangun mengikuti kontur tanah. Beberapa penduduk kawasan Baduy Luar ada yang mengenakan kaos dan beberapa rumah ada yang dijadikan warung.

Secara fisik, masyarakat Baduy Luar tidak berbeda dengan Baduy Dalam. Yang membedakan adalah ikat kepala mereka. Kalau ikat kepalanya putih berarti orang Baduy Dalam. Kalau ikat kepalanya hitam/biru, berarti orang Baduy Luar. Sama halnya dengan penduduk Baduy Dalam, masyarakat Baduy Luar juga masih menenun kain untuk dijual sebagai souvenir kepada wisatawan
yang datang.


Trek Menantang
Dalam perjalanan menyusuri Baduy Luar, Sobat Pesona akan berjalan sekitar 3 kilometer menuju jembatan bambu yang menjadi perbatasan antara Baduy Luar dan Baduy Dalam. Ada sembilan desa di Baduy Luar, sedangkan di Baduy Dalam ada tiga desa. Masing-masing desa terpisah hutan. Mereka ini tersebar di Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan sebagainya.

Perjalanan melalui Desa Gajeboh memakan waktu hingga 2-3 jam hingga menuju jalur pendakian. Sudah mulai merasa kelelahan, lutut terasa panas, nafas naik turun dan pundak mulai pegal? Istirahat dulu, karena perjalanan masih panjang. Jangan khawatir kehabisan minum, di sepanjang perjalanan, terlihat sesekali ada orang Baduy yang menjual minuman. 

Pemandangan sepanjang jalur trekking ini berupa ladang dan hutan. Saat memasuki kawasan Baduy Dalam, perjalanan kembali menemui tanjakan, namun kali ini, sebuah tanjakan yang cukup curam di lereng bukit dengan kemiringan lebih dari 60 derajat. Baru berjalan sejauh 3 meter, jalan kembali menanjak.

Tapi mendekati kampung, trek mulai relatif bersahabat. Jalan setapak landai kira-kira sejauh 15 menit jalan kaki, kita akan sampai ke ladang penduduk Baduy Dalam. Melewati hutan lindung sebentar, kemudian lumbung desa, menyebrangi sungai kecil, hingga akhirnya sampai di Kampung Cibeo, salah satu kampung yang dihuni oleh Suku Baduy Dalam. Perjalanan dari Kampung Gajebo sampai Kampung Cibeo ini ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 3 jam 30 menit.

Perjalanan pulang dari Desa Adat Baduy Dalam tidak lebih mudah dari jalur berangkat. Sobat Pesona masih harus melalui jalur trekking yang tak jauh beda dengan jalur saat menuju Baduy Dalam dan Baduy Luar. Meski melalui jalur yang berbeda, sepanjang perjalanan, tetap akan disuguhkan jalan setapak berbatuan yang ditumbuhi lumut, hutan, dan beberapa tanjakan, bahkan lereng bukit curam sedalam 5 meter. Jika memungkinkan, lewatlah jembatan yang menjadi ikon Suku Badui, yakni Jembatan Akar yang berusia lebih dari 60 tahun.

Setelah 4,5 jam berjalan kaki melalui hutan, keluar masuk kampung, menyebrangi saluran irigasi dan pematang sawah, ditambah 7 menit naik ojek, akhirnya sampai di Cakuem. Di sini kita bisa membersihkan badan di rumah warga, berjalan-jalan di sekitar Ciboleger untuk melihat-lihat atau membeli hasil tenun khas Baduy.