Berawal dari Gulungan, Aksara Lontara Mendunia

Naskah kuna beraksarakan Lontara biasanya berisi catatan mengenai undang-undang perdagangan, perjanjian, peta dan jurnal. Bentuk naskah kuna Lontar sendiri menarik. Media tulis berbahan lontar berbentuk anjang dan tipis. Cara “melipat” lembar lontar ini dengan digulung ke poros kayu.

Aksara Lontar digunakan untuk menuliskan Bahasa Bugis, Makassar dan Manda. Kata “lontara” sendiri berasal dari Bahasa Melayu untuk merujuk daun lontar yang digunakan untuk menulis sebelum adanya kertas buatan pabrik lahir sebagai media tulis. Penulisan menggunakan daun lontar dengan cara menggoreskan ujung pisau untuk menuliskan aksara-aksara kuna.

Naskah kuna beraksarakan Lontara biasanya berisi catatan mengenai undang-undang perdagangan, perjanjian, peta dan jurnal. Bentuk naskah kuna Lontar sendiri menarik. Media tulis berbahan lontar berbentuk anjang dan tipis.  Cara “melipat” lembar lontar ini dengan digulung ke poros kayu.  Cara ini sangat berbeda dengan naskah kuna berbahan lontar lainnya yang biasanya ditumpuk lalu diikat sebagai jilidnya. Lalu disimpan di sebuah wadah yang biasa disebut kropak atau peti kayu.

Di masa kini, tradisi menuliskan Aksara Lontara masih dipakai untuk keperluan upacara seperti pernikahan di Bugis, sementara di Makassar aksara Lontara digunakan untuk menulis surat dan catatan. Para penulis naskah yang menggunakan aksara Lontara biasanya disebut palontara.

Aksara Lontara sendiri tidak mengenal tanda baca untuk mematikan suku kata yang memiliki pasangan vokal setiap aksaranya. Aksara Lontara pada umumnya menebak bunyi ketika sedang membaca tulisan aksara-aksaranya untuk memahami isi tulisan.

Beberapa jenis Aksara Lontara ada yang disebut Aksara Jangang-jangang dan Aksara Bilang-bilang. Pun aksara yang digunakan di luar Sulawesi Selatan, ada jenis Aksara Lontara di daerah NTB hingga NTT. Di Sumba, Sumbawa dan Flores, di mana aksara Lontara diadaptasi ke bahasa setempat, menjadi memiliki karakter sendiri. Aksara-aksara tersebut dikenal dengan Aksara Jontal, Aksara Bima, Aksara Humba, Aksara Mbojo dan Aksara Lota Éndé. Berbeda dengan Aksara Lontara, jenis yang berada di wilayah NTB dan NTT ini memiliki tanda baca mati.

Ada sebuah judul naskah yang sangat populer, salah satu kode naskahnya NBG 188 tersimpan di Universitas Leiden, Belanda, berjudul La Galigo. Naskah ini beraksara Lontara dan berbahasa Bugis “Kuna” dan bahasa Melayu yang ditulis pada media tulis berbahan kertas Eropah. Rangkaian naskah kuna ini memiliki beberapa jilid dan isi ceritanya sering dipertunjukkan ke dalam bentuk teater bahkan ditampilkan di luar negeri.

Selain La Galigo, ada beberapa istilah misalnya Sureq GaligoSureq Selleang, atau Bicaranna Sawerigading. Naskah kuna Sureq Galigo yang disimpan di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Selatan menggunakan Aksara Lontara dan bahasa Bugis Kuna. Kemudian ada juga naskah-naskah Islam yang ditulis menggunakan Aksara Lontara seperti naskah koleksi Kesultanan Bone ditulis di media kertas Eropah dan berbahasa Bugis.

Ada pun naskah beraksara Lontar yang bergulung berjudul Lontara Meong PaloE menggunakan bahasa Bugis. Naskah kuna ini berisi mantra yang dilengkapi gambar-gambar ilustrasi berbentuk manusia dan ukuran naskahnya seperti buku saku.

Foto: Dokumentasi Sinta Ridwan (Koleksi British Library - Kode Or 8154 - Aksara Lontara, Koleksi Aksakun - Kode 6 - Aksara Lontara)