Gong Mojolaban yang Mendunia di Tengah Modernisasi

Daya tarik pembuatan gong di Mojolaban adalah prosesnya yang sangat kental dengan nuansa tradisional. Pembentukan gong diawali dengan pembakaran yang memakai tungku arang.

"Pabrik" pembuatan alat musik yang menarik ribuan turis tiap tahunnya adalah industri gong di Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah. Gong yang merupakan alat musik pukul ini dikenal di segenap Asia walau bentuknya berbeda-beda, tergantung wilayah asalnya. Gong Mojolaban yang merupakan bagian dari musik karawitan (gamelan) ini berbentuk bundar dengan sebuah tonjolan di tengahnya. Berbagai gong dari Asia Timur tidak mempunyai tonjolan ini.

Daya tarik pembuatan gong di Mojolaban adalah prosesnya yang sangat kental dengan nuansa tradisional. Pembentukan gong diawali dengan pembakaran yang memakai tungku arang. Suhu api dinaikkan dengan alat tiup yang dipompa oleh tenaga manusia. Saat bunga-bunga api meletup ke udara, para turis sibuk membidikkkan kamera menangkap keindahan bunga api itu.

Gong dibuat dari campuran tembaga dan timah dan perbandingan yang khas dimiliki para pembuat gong. Saat dibentuk, gong dibakar lalu dipukul-pukul saat masih membara oleh tiga sampai lima pria.

Selain itu, proses penalaan atau pengaturan frekuensi suara gong juga menjadi atraksi tersendiri. Gong dipukul, digerinda lalu dibunyikan lagi berkali-kali sampai didapat nada yang sesuai. Ketika membuat gong, pengrajin gong juga harus teliti. Mereka harus menyesuaikan not yang menjadi patkan dalam menyelaraskan nada gong dengan perangkat gamelan lainnya.

Saat ini, di Mojolaban hanya tersisa beberapa perajin gong saja karena pesanan sudah tidak sebanyak dulu. Dunia musik digital sudah mengubah banyak hal. Kegiatan pembuatan gong di Mojolaban dimulai tak lama setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Ketenaran gong berada dipuncaknya pada era 1970-an.

Permintaan gong di tanah air mula menurun. Hanya di Bali saja yang masih menjadi pangsa besar penjualan gong asal Mojobalan. Sementara, permintaan gong justru banyak datang untuk diekspor ke Malaysia, Jerman, Korea Selatan, Australia, Jepang dan Taiwan.

"Saya masih membuat gong sampai kapan pun karena memang gong tetap dibutuhkan," kata Supoyo, salah seorang ahli pembuat gong di Mojolaban.

Saat ini, tak banyak perajin yang memilih gulung tikar dengan alasan ongkos produksi yang mahal. Dalam satu bengkel pembuat gong, misalnya, hanya tinggal 10 pengrajin saja. Merekalah pejuang yang masih mempertahankan budaya lokal di tengah modernisasi hingga bisa membawa gong terkenal ke seluruh dunia.