Seren Taun Cigugur, Tontonan yang Menjadi Tuntunan

Seren Taun Cigugur biasanya berlangsung selama tujuh hari yang dimulai dengan upacara-upacara sakral. Upacara ini bertujuan agar menjaga keseimbangan alam agar hama dan unsur negatif tidak mengganggu kehidupan manusia.

Upacara Seren Taun Cigugur adalah ungkapan syukur dan doa atas suka duka masyarakat Sunda utamanya di bidang pertanian. Bagi petani, bumi yang subur, lahan yang mapan, merupakan bagian dari hidup, kehidupan dan kepercayaan terhadap kemurahan Tuhan Yang Maha Esa. Padi telah memberi kekuatan bagi kelangsungan hidup manusia untuk saling memberi, saling mengisi. Namun mampukah manusia memanfaatkan sumber daya alam tanpa merusak ekosistem dalam daur hidup kehidupannya?

Hal yang menarik, seni budaya yang ditampilkan di acara Seren Taun Cigugur di Kuningan Jawa Barat ini bukan hanya sekadar sebuah “tontonan”, tetapi juga dapat menjadi “tuntunan” dalam menyadari kearifan-kearifan lokal yang masih penting dan relevan untuk dipelihara. Seperti upacara sakral Pesta Dadung yang dilaksanakan di perbukitan batu Mayasih yang merupakan upaya meruwat dan menjaga keseimbangan alam agar hama dan unsur negatif tidak mengganggu kehidupan manusia.

Tari Buyung yang penuh simbol tentang tanah, air dan aku yang digelar di halaman Paseban Tri Panca Tunggal. Ada juga upacara sakral Ngamemerokeun  yang masih dilaksanakan di daerah Kanekes (Baduy). Namun, selain itu digelar juga kesenian dan hiburan rakyat karena kegiatan ini juga  merupakan hubungan antara sesama manusia.

Pada praktiknya, acara yang biasanya berlangsung 7 hari itu dibuka oleh gelar budaya Damar Sewu (seribu obor), dilanjutkan padal 18 Rayagung dengan upacara Ngajayak (menjemput padi). Lalu sebagai puncak acaranya diakhiri Ngareremokeun (mendoakan Padi yang akan ditumbuk) pada 22 Rayagung sebagai bulan terakhir dalam perhitungan kalender sunda.

Karena padi dianggap sebagai lambang kemakmuran, maka dituturkanlah kisah-kisah klasik pantun sunda yang bercerita tentang perjalanan dewi padi, Pwah Aci Sahyang Asri atau yang lebih dikenal dengan Dewi Sri. Dewi Sri merupakan gambaran manusia dalam menjalani proses kehidupan baik secara pribadi maupun sosial. 

Acara yang dimulai kembali 1999 di Kabupaten Kuningan itu tentunya merupakan hal yang dapat dibanggakan karena setiap helatan Seren Taun Cigugur dilaksanakan, dapat mendatangkan ribuan wisatawan domestik maupun mancanegara. Bahkan Gus Dur, Megawati, Amin Rais, Sultan Hamengku Buwono X, dan banyak lagi pejabat ternama pernah hadir di Cigugur. Dan khususnya bagi saya yang mulai hadir tahun 2000Seren Taun Cigugur  semakin hari jadi semakin menarik. Mengapa? Karena selain menyuguhkan budaya tradisi Sunda dan hiburan rakyat yang selalu berbeda setiap tahunnya, juga mengajak kita untuk merenungkan kembali tentang arti kebhinekaan.