Peninggalan Bertulis Kala Aksara Jawa Kuna Populer di Nusantara

Aksara Jawa Kuna berkembang selama lebih dari tiga abad antara abad ke-7 hingga abad ke-10. Tahapan perkembangan aksara Jawa Kuna disebutkan Kawi I Jawa Timur pada abad ke-10, Kawi II Jawa Timur abad ke-11, Kawi III Jawa Timur abad ke-11 dan Aksara Kuadrat dari periode Kadiri abad ke-11 hingga ke-13.

Meski bernama aksara Jawa Kuna, penemuan peninggalan bertulis nenek moyang yang menggunakan aksara Jawa Kuna atau nama lainnya aksara Kawi ini di meliputi Pulau Jawa, Bali sampai ke beberapa wilayah di Sumatera bahkan Kalimantan. Ketika ada goresan aksara Jawa Kuna, misalnya, bahasa yang digunakan bukan hanya Bahasa Sanskerta dan Bahasa Melayu Kuna saja, tapi juga Bahasa Jawi Kuna (sebelum abad ke-9) dan Bali Kuna (abad ke-9).

Bahasa Jawa Kuna itu berbeda dengan bahasa Jawa pascaperiode Mataram “baru”. Sementara untuk aksara Jawa Kuna juga jauh berbeda dengan aksara Jawa “modern”. Karena aksara Jawa Kuna masih berakar pada aksara Pallawa yang berkembang di masa sebelumnya.

Aksara Jawa Kuna berkembang selama lebih dari tiga abad antara abad ke-7 hingga abad ke-10. Tahapan perkembangan aksara Jawa Kuna disebutkan Kawi I Jawa Timur pada abad ke-10, Kawi II Jawa Timur abad ke-11, Kawi III Jawa Timur abad ke-11 dan Aksara Kuadrat dari periode Kadiri abad ke-11 hingga ke-13. Penggunaan Kawi akhir yang berkembang di wilayah timur Jawa terbagi menjadi tiga periode, yaitu periode Mataram Kuna, Kadiri, dan Singhasari-Majapahit yang berada pada abad ke-10.

Aksara Jawa Kuna dianggap paling awal berasal dari Kerajaan Singhasari di Jawa Timur. Selanjutnya ditemukan di masa Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, Bali, Kalimantan dan Sumatera. Selain prasasti, ada juga artefak bertulis berbentuk piagam tembaga yang beraksara Jawa Kuna, beberapa di antaranya disimpan di British Library, Inggris.

Salah satunya Prasasti Pabuharan berupa piagam tembaga dan kondisinya tidak terlalu baik. Prasastiyang diperkirakan dari abad ke-9 menyebutkan pemberian untuk upacara berupa kain dan emas yang diperuntukkan kepada beberapa pejabat. Beberapa prasasti yang ada di British Library merupakan bawaan atau kepunyaan Sir Thomas Stamford Raffles sekitar abad ke-19.

Ditemukan juga prasasti beraksara dan berbahasa Jawa Kuna bernama Prasasti Sukabumi yang berasal dari awal tahun 800-an. Dibandingkan prasasti beraksara lain, prasasti beraksara Jawa Kuna jumlahnya lebih banyak dan beberapa di antaranya masih bisa diselamatkan. Sebab, Aksara Jawa Kuna bukan hanya ditemukan terukir di atas batu, tapi juga pada lempengan tembaga dan juga emas.

Artefak bertulis yang menggunakan Aksara Jawa Kuna yang disimpan di Museum Nasional beberapa di antaranya ada sebuah cincin emas ditemukan di Purbalingga, Banyumas sekitar abad ke-9 sampai ke-19. Prasasti Marinci dari Desa Princi, Batu, Malang, menggunakan material tembaga, tapi tidak diketahui waktu pembuatannya.

Menariknya, ada pula mangkuk dan piring yang terbuat dari emas bergoreskan aksara Jawa Kuna dan diperkirakan dari abad ke-9 ditemukan di Desa Wonoboyo, Jogolan, Klaten. Kalau diperhatikan, koleksi Museum Nasional dalam bentuk prasasti abad ke-9 lumayan banyak berasal dari Dieng, Jawa Tengah dan dari Malang, di antaranya Desa Dinoyo.

Dokumentasi: Sinta Ridwan (Koleksi Munas - Kode D 133 - Aksara Kawi Kuadrat, Koleksi Aksakun - Kode 5 - Aksara Jawa Kuna, Koleksi Munas - Kode D 195 - Aksara Jawa Kuna)