Situs Megalitik Pugung Raharjo, Benteng Hingga Batu Mayat

Tiba di lokasi, saya langsung melihat sebuah gapura setinggi 2 meter yang tampaknya terbuat dari batu hitam kelam, mirip seperti gerbang sebuah candi. Di sisi kanan dan kiri terlihat seperti bukit dan selokan yang ternyata adalah sebuah benteng.

Melakukan wisata ke makam? Kenapa tidak? Ini merupakan pengalaman yang menarik untuk saya pribadi karena dari makam pra sejarah, kita bisa mengetahui informasi kehidupan nenek moyang zaman dahulu kala. Saya pun memutuskan untuk berkunjung ke Situs Pugung Raharjo di Sakampung Udik, Lampung Timur.

Tiba di lokasi, saya langsung melihat sebuah gapura setinggi 2 meter yang tampaknya terbuat dari batu hitam kelam, mirip seperti gerbang sebuah candi.  Di sisi kanan dan kiri terlihat seperti bukit dan selokan.  Dari penuturan Indra, rekan saya waktu itu, menjelaskan bahwa ini bukan sembarang bukit dan selokan. Ini adalah sebuah banteng yang terbuat dari tanah sebagai pertahanan bagi masyarakat dahulu dari serangan binatang buas maupun musuh.

Tampak dari luar hanya seperti gundukan tanah yang tinggi, ibarat bukit kecil mengelilingi lapangan dengan cerukan seperti parit dibagian luar.  Saya seolah tak sabar ingin melihat ada situs apa saja di area ini.  

Lima menit  berjalan dari pintu masuk, di depan saya ada sedert batu berkumpul dalam satu area  menyerupai menhir yang dulu saya lihat di Negeri Mahat, Sumatera Barat.  Namun, Situs Pugung Raharjo ini lebih kecil.  Bisa dikatan juga menyerupai Situs Gunung Padang di Cianjur.  

Inilah Situs Megalitik Batu Mayat atau Makam Mayat. Berdasar penelitian arkeolog, di lokasi ini dahulu ditemukan sebuah batu yang tergeletak mirip mayat hingga disebutlah Batu Mayat. Uniknya, setelah ditegakkan batu tersebut mirip sebuah batu bentuk kemaluan laki-laki yang tegak berdiri. Setelah dikaji kembali, batu tegak tersebut merupakan lambang kekuasaan kala itu.

Dari Makam Mayat dari berbagai sisi, saya dan teman-teman menuju situs lainnya.  Dari kejauhan tampak bangunan menggunung yang di sekitarnya terdapat batu hitam tersusun rapi meninggi.  Kalau dilihat, mirip sebuah Piramida di Mesir. Inilah yang dikenal sebagai Punden Berundak yang dulu menjadi tempat memuja arwah nenek moyang.

Bentuk mengerucut tinggi menunjukkan bahwa tempat tinggi dianggap lebih suci bagi para leluhur. Tersirat dalam hati decak kagum melihat karya masyarakat zaman dahulu. Inilah bukti nyata adanya sejarah peradaban manusia.

Belum usai,  selanjutnya saya menuju sebuah perigi (kolam) di area belakang benteng. Perigi adalah tempat mandi para raja zaman dulu kala. Sering juga digunakan sebagai  tempat bersuci dan bertapa.  Hingga kolam pemandian ini dikenal sebagai tempat keramat dan dikabarkan airnya membuat awet muda.   Airnya segar dan bening. Ada ikan kecil-kecil yang sering dijadikan “alat terapi” oleh para pengunjung.