Berkunjung ke Masa Lampau Bersama Masyarakat Suku Baduy

Masyarakat Baduy atau Urang Kanekes terbiasa menyelesaikan masalah dengan mengikuti pesan para nenek moyang atau dengan Pikukuh yang merupakan falsafah hidup yang telah digariskan.

Ingin menyaksikan suasana kehidupan sekitar 2.000 tahun lalu secara nyata? Juga masih memungkinkan Sobat Pesona berkomunikasi dengan penduduk masa silam? Jawaban dan faktanya bisa ditemui di tiga Kampung Tangtu Tilu, Kabupaten Lebak, Banten. 

Lebih umum, lokasi ini dikenal dengan sebutan 3 Kampung Baduy Dalam. Masing-masing bernama Kampung Cikeusik, Kampung Cibeo dan Kampung Cikartawana. Lokasinya berada di arah barat daya dari Jakarta, sekitar 190 km saja. Berkendaraan lewat jalan darat perlu waktu sekitar 5 jam. Dengan helikopter hanya setengah jam saja.

Kelompok Urang Kanekes masih mempertahankan kehidupan mereka sebagaimana pesan nenek moyangnya agar senantiasa mengacu pada falsafah hidup yang telah digariskan. Mereka menyebutnya Pikukuh. Urang Kanekes juga senantiasa menjalankan ibadah yang dalam istilah mereka disebut Tapa. Kepatuhan dan kejujuran warganya perlu dapat acungan jempol. Mereka melaksanakannya dengan rasa tanggung jawab penuh.

Tiga buah di  Kampung Tangtu Tilu merupakan bagian dari hampir 70 buah kampung yang ada di Desa Kanekes di Kecamatan Leiwidamar. Jumlah kampung di Desa Kanekes bisa berkurang atau bisa bertambah sesuai dengan pertimbangan ada atau tidaknya nilai positif bagi penghuninya berdasarkan menurut tetua adat setempat.

Mata pencaharian Urang Kanekes adalah bertani di sawah berpindah tanpa menggunakan pupuk kimia. Mereka juga masih berpatokan pada rasi bintang di langit. Mereka memiliki banyak pohon buah-buahan dan tanaman palawija untuk kebutuhan mereka. Cadangan logistik Urang Kenekes berupa padi di dalam lumbung-lumbung milik merek. Persediaan logistik mereka masih cukup untuk mereka konsumsi 20 tahun kedepan.

Penduduk Tangtu Tilu sangat patuh pada peraturan adat. Mereka merasa tidak memerlukan teknologi masa kini. Mereka mengandalkan kemandirian dan menanggulangi segala permasalahan sebagaimana telah dijalani para pendahulu mereka yaitu dengan menganut kepercayaan Sunda Wiwitan (Sunda Lama/Awal). Satu tahun sekali, kaum laki-lakinya menjalankan Muja di punden berundak Sasaka Domas pada Bulan Kalima pada tanggal 18.

Penanggalan mereka tidak mengikuti almanak Gregorian. Mereka menghitung satu bulan dengan jumlah hari paling sedikit adalah 27 hari dan paling banyak 90 hari. Urang Kenekes memiliki aksara sendiri yang sangat sederhana. Mereka mencatat peristiwa-peristiwa penting diatas Bambu Haur dengan menggunakan ujung pisau sebagai alat untuk menulis. Jika Indonesia melakukan cacah jiwa 5 tahun sekali, di Tangtu Tilu dilakukan dua kali cacah jiwa dalam setahun.

Untuk mencapai pemukiman Tangtu Tilu, Sobat Pesona bisa menggunakan kendaraan menuju Kota Rangkasbitung, ibukota Kabupaten Lebak. Masih sekitar 50 km setelah melewati Kecamatan Leuwidamar,  Bojongmanik dan Cirinten. Selanjutnya, Sobat Pesona akan melewati Desa Cirinten, Parigi sampai di Kampung Kadu Hejo. Kemudian berbelok ke kiri atau ke arah timur menuju Kampung Cijahe. Kendaraan kita hanya sampai di ujung jalan aspal. Selanjutnya, Sobat Pesona harus  berjalan kaki sekitar 30 menit untuk mencapai Kampung Cikeusik. Dari sini, perjalanan ke Kampung Cikartawana dan Cibeo masih sekitar satu jam melalui jalan setapak.

Ada beberapa syarat yang diikuti oleh para wisatawan jika ingin berkunjung ke Tangtu Tilu. Kampug ini hanya boleh dimasuki oleh WNI dan mereka yang sudah disunat. Selain itu, wisatawan juga harus mau mematuhi peraturan adat setempat tanpa kecuali. Wisatawan juga dilarang memotret dan membuat sketsa di dalam kawasan mereka tanpa seizin masyarakat dan tetua adat.