Seluruh Panca Indra Kagum dengan Keindahan Budaya Krayan

Elyas Yesaya adalah seorang guru paruh baya asli Suku Dayak Lundayeh yang ceria dan bersuara besar. Ia begitu senang menjawab pertanyaan dari rasa penasaran kami yang seolah selalu dibuat terpesona dengan budaya mereka.

Perjalanan ke Dataran Tinggi Krayan, Kalimantan Utara, bukan cuma soal keindahan alam tapi juga soal keindahan seni tari yang memukau. Kali ini, kami berkunjung ke Rumah Kubu yang merupakan tempat tinggal Kepala Desa masyarakat Suku Dayak Lundayeh.  

Elyas Yesaya adalah seorang guru paruh baya asli Suku Dayak Lundayeh yang ceria dan bersuara besar. Ia begitu senang menjawab pertanyaan  dari rasa penasaran kami yang seolah selalu dibuat terpesona dengan budaya mereka.

Di dalam rumah, alunan seruling membuka pertemuan kami dengan kelompok kesenian asli Krayan. Hebatnya, kelompok yang berasal dari Sekolah Menengah Atas di desa sekitar Culture Field School (CFS) ini sudah berhasil membawa nama Indonesia ke Eropa dengan mempromosikan kesenian Suku Dayak Lundayeh.

Tarian pergaulan muda-mudi Dayak dipertontonkan dengan gemulai. Sapuan tangan dan teriakan para penari muda sungguh membuat kami kagum. Paras penari wanita yang cantik semakin sedap dilihat karena menggunakan busana khas Lundayeh yang banyak manik-manik. Sedangkan para penari pria terlihat begitu gagah dengan hiasan bulu burung, tameng sambil menghunus Mandau dalam gerakan tarian yang ditampilkan. Setelah mata dan telinga kami dihibur dengan alunan musik dan tarian, giliran lidah kami yang akan dimanjakan sajian khas Lundayeh yang menggunakan tumbuhan organik  dari hasil panen masyarakat. Lengkap sudah!

Cerita Malam
Malam hari, kami menikmati kisah tentang warga Krayan dari Matias Lasu, mantan Kepala Desa yang sudah berumur 80 tahun. Meski usianya sudah sangat tua, beliau masih lantang dan mantap menceritakan kembali kisah tentang perang konfrontasi melawan Malaysia pada 1964 hingga 1965. Saat itu, Matias Lasu berperan sebagai tim logistik perang.

Matias Lasu juga bercerita tentang kehidupan masyarakan Krayan sebelum dan sesudah kemerdekaan. Dimulai dengan kisah perang antar suku yang terselesaikan setelah masuknya agama pada 1930. Masyarakat yang awalnya menganut animisme mulai banyak yang mempelajari ajaran Kristen.

 

Pada 1960-an, Dataran Tinggi Krayan harus terbagi di dua negara, pun dengan masyarakat yang tinggal di dalamnya. Meski memiliki garis keturunan yang sama, kejadian ini mengharuskan mereka menjadi warga negara yang berbeda meski sama-sama menginjak tanah Krayan dan mengalir darah Indonesia sejak lahir.  

Tak cukup hanya bertutur kata, Matias Lasu mengeluarkan dokumen-dokumen penting tentang keturunan, peraturan desa hingga cerita-cerita penting. Beliau berupaya melestarikannya dalam bentuk tulisan.  Bahkan, Matias Lasu memiliki cetakan ukiran yang digambar di atas karton bekas rokok. Kami sangat kagum dengan kegigihan beliau karena tetap menyimpan semua dokumen dan cerita asli rakyat Lundayeh. Tujuannya hanya satu, agar cerita tentang Suku Dayak Lundayeh tak hilang dimakan zaman.