Kisah Perjalanan Aksara “Sunda” di Wilayah Jawa Bagian Barat

Dalam naskah-naskah kuna yang ditemukan di “Sunda” berisi ajaran agama, sastra dan bahasa, hukum/aturan, mitologi, pendidikan, ilmu pengetahuan, primbon atau ramalan, sejarah, serta seni. Media tulisnya sendiri terdiri dari lontar, nipah, enau, kelapa, bambu, daluang dan kertas.

Perjalanan kemunculan tradisi tulis dirasa cukup lengkap mewakili periodisasi waktu di wilayah Jawa bagian barat yang dihuni sebagian besar oleh etnis Sunda. Kata Sunda sendiri tertulis pada Prasasti Kebonkopi II yang berasal dari abad ke-10. Prasasti ini menggunakan aksara Jawa Kuna dan bahasa Melayu Kuna yang ditemukan di Bogor, Jawa Barat.

Tradisi tulis di wilayah Jawa bagian barat ini memiliki aneka bentuk aksara yang terjadi karena kekuasaan dan “gaya” kepemerintahannya yang kerap berganti, termasuk letak ibukotanya. Aksara yang digunakan oleh para leluhur Sunda sangat bergantung pada kondisi dan keadaan tertentu, jadi bisa dilihat bahwa perkembangan aksaranya beragam dari masa ke masanya.

Pada sebuah periode yang lampau di wilayah “Sunda” ini ditemukan artefak bertulis menggunakan aksara Pallawa dan Jawa Kuna yang ditulis sejak abad ke-5 hingga ke-14, termasuk aksara lainnya yaitu Dewanagari dan Buda. Adapun aksara Sunda Kuna disebut memiliki hubungan dengan keberadaan agama Hindu-Buddha saat itu sehingga di kemudian memunculkan aksara yang sudah diadaptasi, sebut saja para pengguna Aksara Pallawa.

Dalam naskah-naskah kuna yang ditemukan di “Sunda” berisi ajaran agama, sastra dan bahasa, hukum/aturan, mitologi, pendidikan, ilmu pengetahuan, primbon atau ramalan, sejarah, serta seni. Media tulisnya sendiri terdiri dari lontar, nipah, enau, kelapa, bambu, daluang dan kertas. Beberapa judul naskah kuna seperti Kabuyutan Galunggung, Carita Ratu Pakuan, Fragmen Carita Parahyangan, Carita Parahyangan, Séwaka Darma, Kawih Paningkes, Jati Niskala, Darmajati, Bujangga Manik, Kisah Sri Ajnyana, dan lain sebagainya.

Adapun kemunculan “terakhir” aksara Sunda masih ditulis pada abad ke-18 dengan ditemukannya naskah kuna salinan berjudul Waruga Guru yang ditulis di kertas Eropah. Sementara periode penggunaan aksara Sunda Kuna sendiri dianggap dimulai sejak abad ke-14 hingga abad ke-16 terlepas ditemukan juga naskah salinan pada abad ke-18.

Saat itu, pengaruh perkembangan saat Islam sudah menyebar karena hubungan ekonomi lewat perdagangan dan penyiaran Islam, di bawah pengawasan Mataram. Jadi, ketika sudah berkenalan dengan bahasa dan aksara Arab yang disebut Aksara Pegon, penulisan naskah kuna memakai aksara Arab tapi dengan bahasa Sunda.

 

Kepenulisan Aksara Cacarakan atau aksara Jawa disebut-sebut adalah akibat dari “hubungannya” dengan Mataram. Kepenulisan Aksara Cacarakan, meski ada dua aksara yang hilang dari aksara Jawa yaitu aksara konsonan “dha” dan “tha”, sudah lama digunakan sejak abad ke-17 bahkan hingga abad ke-20. Hal tersebut dibuktikan dengan keberadaan naskah-naskah kuna yang bertuliskan Aksara Cacarakan tersebut.

Naskah-naskah kuna di wilayah ini memiliki varian bahasa dan aksara sesuai dengan periode kepenulisan dan letak geografisnya. Kepenulisan Aksara Sunda Kuna dianggap sebelum Islam masuk dan menyebar. Sedangkan Aksara Cararakan digunakan setelah adanya pengaruh Mataram dan agama Islam.

Pada akhir abad ke-20, beberapa ahli naskah kuna melakukan kegiatan “pengembalian atau pengenalan kembali” pada Aksara Sunda Kuna yang tertimbun Aksara Cacarakan selama beberapa abad. Hasil dari kegatan ini kemudian “wajib” dipelajari di sekolah-sekolah dasar yang ada di wilayah Jawa Barat dalam bentuk aksara yang sudah didigitalisasikan atau diformat komputerisasi, yang disebut aksara Sunda Baku.

Foto: Dokumentasi Sinta Ridwan (Koleksi Perpusnas Peti 69 No 1095 - Aksara Sunda Kuna, Koleksi Perpusnas Peti 95 L 1212 - Aksara Sunda Kuna, Koleksi Aksakun - Kode 2 - Aksara Sunda Kuna)