Berburu Sunrise di Danau Tamblingan, Sangat Syahdu

Danau Tamblingan berada di lereng sebelah utara Gunung Lesung, Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Selain indah, danau ini memiliki nilai historis dan spiritual yang kental.

Bali selalu saja menggelitik kaki saya untuk terus menjelajahinya. Setiap kilometer alam di Pulau Dewata seakan menjanjikan eksotisme budaya, adat dan alam. Sebuah kesatuan yang tak lekang didera zaman. Tujuan saya kali ini adalah Danau Tamblingan yang menyuguhkan pemandangan yang memesona nan tentram.

Danau Tamblingan berada di lereng sebelah utara Gunung Lesung, Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Selain indah, danau ini memiliki nilai historis dan spiritual yang kental. Nyatanya, jika dibandingkan dengan Danau Buyan dan Danau Beratan, Danau Tamblingan adalah danau terkecil yang ada di Bali dan berada di ketinggian sekitar 1.200 mdpl.

Saya sangat ingin menyaksikan terbitnya matahari dan kabut cantik di Danau Tamblingan. Hingga mata seketika terbuka dari lelap tidur malam, saya segera berkemas dan ingin tiba disana lebih cepat dari lirikan matahari. Tepat pukul empat pagi, saya dan beberapa orang lainnya sudah meluncur dengan kendaraan roda empat. Tanpa hambatan berarti, jarak 65 km ke Danau Tamblingan berjalan lancar dan hanya ditempuh kurang dari satu jam.

Hari masih gelap saat saya tiba di gerbang masuk Danau Tamblingan. Angin dingin menerpa. Jaket dan kain sarung saya lilitkan kembali ke badan.  Namun, saya harus bergegas tiba di bibir danau karena matahari tak enggan menunda kehadirannya. 

Kami melilitkan kain sarung Bali dan penutup kepala yang biasa di sebut udeng bagi laki-laki, sebagai bentuk penghormatan pada adat dan agama di Bali.  Saya dan beberapa orang itu melangkahkan kaki di jalan setapak dengan jalan setengah beraspal. Sesekali lolongan anjing meraung-raung dalam gelap dan dingin.

Tak terasa sudah 15 menit berjalan kaki dan kelompok kami tiba di tepi danau. Semburat terang mulai tampak di ufuk. Syukurlah, kami sudah tiba sebelum Sang Mentari tergugah. Tak ingin melewatkan sedetik pun keindahannya, waktu demi waktu perubahan terang kami nikmati. Samar terlihat kabut tipis di atas danau dan sinar matahari seketika muncul dari balik bukit di depan mata. Awan dan kabut bergeser kencang oleh kencangnya angin.

Pura Dalem Tamblingan yang berada tepat di tepi danau mulai terlihat jelas. Ketika saya datang, wujudnya hanya bayangan hitam. Pura ini berdiri anggun dengan air tergenang di sekitarnya dengan rumput yang tak terlalu tinggi berada mengelilinginya. 

Danau ini mengalami pasang surut bergantung pada kondisi cuaca. Apabila musim penghujan, air di Danau Tamblingan melimpah bahkan bisa membanjiri hingga perkampungan rumah penduduk di tepian danau. Namun, apabila air sedang kering, kita bisa berjalan kaki menuju pura. Selain Pura Dalem Tamblingan, ada pula beberapa pura lain yang berukuran lebih kecil di sekitarnya

Perahu-perahu bercadik bertengger di bibir pantai. Seorang nenek mengayuh pelan menjauh dari pura. Suasana di danau ini begitu tenang dan indah membuat saya enggan beranjak. Sungguh perpaduan alam dan budaya yang selalu membuat saya kagum.