Semalam Menjadi Orang Minang di Nagari Seribu Rumah Gadang

Sobat Pesona ingin mencoba sesuatu yang berkesan ketika berkunjung ke Sumatra Barat? Kunjungilah Nagari Seribu Rumah Gadang di Solok Selatan dan cobalah menjadi orang Minang.

Solok Selatan merupakan destinasi wisata yang patut dicoba ketika Sahabat Pesona berkunjung ke Sumbar. Jika Sobat Pesona ingin menikmati suasana perkampungan Minangkabau tempo dulu yang masih relatif asli,  datanglah ke Nagari Seribu Rumah Gadang.  Kampung yang didominasi rumah bagonjong ini terletak di Nagari Koto Baru, Kabupaten Solok Selatan, sekitar 150 kilometer dari Padang, Sumatera Barat.  Dengan mobil, Sahabat Pesona akan dapat sampai sekitar 3-4 jam dari Bandara Minangkabau.

Perjalanan akan melewati Danau Di Bawah yang sangat terkenal.  Sekitar satu jam dari danau tersebut, Sobat Pesona kan menemukan tulisan besar “Nagari Seribu Rumah Gadang” di sebelah kanan jalan. Ada masjid besar dengan arsitektur khas Minangkabau menjadi pintu gerbang masuk ke kampung yang asri dan damai ini. 

Setelah memasuki gapura Nagari Koto Baru, Sobat Pesona akan menyaksikan perkampungan yang didominasi rumah bagonjong hampir di seluruh kampung. Jumlahnya ratusan dan sebagian besar masih terawat tapi ada juga yang mulai rusak.

Ada sekitar tujuh rumah adat yang juga difungsikan sebagai homestay.  Sobat Pesona dapat menginap di rumah-rumah tersebut dengan harga sekitar Rp 200.000 rupiah per orang termasuk makan malam dan makan pagi.  Uniknya, jamuan makannya disajikan dengan cara khas Minang, yaitu makan di atas tikar panjang bersama-sama. Urusan rasa jangan ditanya.  Sobat Pesona akan merasakan gurihnya bumbu asli Nagari Sribu Rumah Gadang yang lamak nian!

Untuk lebih bisa menikmati keindahan dan keramahan nagari ini, Sobat Pesona dapat berjalan kaki mengelilingi kampung tua yang pernah dijAdikan lokasi film “Di Bawah Lindungan Kabah” ini.  Berdasarkan informasi dari Wali Nagari setempat, ada sejumlah suku yang bermukim di kawasan tersebut, seperti Melayu, Bariang, Durian, Kampai, Panai, Tigo Lareh, Koto Kaciak, dan Sikumbang. Setiap suku mempunyai masing-masih rumah besar atau rumah adat. Hal ini juga menunjukkan kehidupan bertoleransi yang sudah terpupuk sejak ratusan tahun yang lalu. 

Saat ini, rumah bagonjong yang berstatus sebagai rumah adat dan kebanyakan tidak dihuni. Biasanya hanya akan dipakai ketika keluarga besar warga datang atau pada pelaksanaan upacara adat.  Keluarga besar inilah yang saling bahu-membahu merawat dan memperbaiki rumah adat masing-masing.  Pemerintah daerah terus berupaya memberikan bantuan untuk perawatan dan renovasi rumah yang hampir seluruhnya terbuat dari kayu. 

Apabila Sobat Pesona sedang beruntung, saat-saat tertentu biasanya ada banyak acara adat di kampung tersebut.  Nah, saat itulah Sobat Pesona akan berkesempatan menyaksikan tarian-tarian tradisional. Karena sudah menjadi “warga lokal”, Sahabat Pesona juga akan dijamu dengan penganan asli khas nagari tersebut, seperti pangek pisang dan lainnya.