Sisi Lain dari Keindahan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Tak perlu diragukan lagi jika Taman Nasional Bromo Tengger Semeru merupakan lokasi kesukaan para pendaki. Namun, sekali-sekali perlu juga untuk diketahui tentang hal-hal lain selain “nanjak” ke atas Gunung Bromo atau Semeru.

Saya akan membahas tentang sisi lain dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS) di Provinsi Jawa Timur. Kawasan seluas lebih dari 50.000 hektare ini menjadi tempat "berkumpulnya" belasan buah gunung. Satu di antaranya adalah Gunung Semeru dengan puncak Mahameru setinggi 3.676 mdpl. Dengan ketinggian tersebut, puncak Mahameru merupakan tanah tertinngi yang ada di Pulau Jawa. 

Menurut legenda, Gunung Semeru merupakan pasak agar Pulau Jawa tidak “bergoyang”. Dengan segala keindahan dan legenda yang tersebar, jutaan pendaki gunung dari segala kalangan berduyun-duyun ingin berdiri diatas tonggak Pulau Jawa, menjadikan Gunung Semeru menjadi yang paling banyak didaki di Indonesia.

Di dasar kaldera Tengger, terhampar “lautan pasir” seluas 6.000 hektare yang oleh penduduk lokal disebut Segoro Wedi. Di tengah dasar kaldera, ada beberapa gunung dan salah satunya adalah Gunung Api Bromo yang dijadikan tempat melempar sesajen dalam upacara Kesodo.

“Hutan primer hujan tropis  dalam kawasan TN BTS menjadi tempat tumbuhnya 128 jenis bunga anggrek”, ungkap Toni yang merupakan salah satu petugas TN BTS. Dia membaginya dalam dua wilayah tumbuhan eksotik itu, yaitu anggrek terrestrial khas sabana Pegunungan Bromo dan anggrek epifit khas Pegunungan Bromo–Tenggetr–Semeru. 

Di dalam kawasan luas itu juga, pernah terdapat anjing ras Tengger. Hingga saat ini, keberadaan asli anjing ras Tengger masih dilacak. Diperkirakan masih terdapat beberapa kelompok anjing liar yang penampilannya merupakan percampuran antara anjing ras Tengger dengan serigala setempat. Anjing ini sering ditemui di Jarak Ijo, Ngadas dan Ranu Pani.

Berbicara soal Ranu Pani, kawasan ini juga memiliki daya tarik sendiri. Di awal musim panas , tepatnya saat April hingga Agustus, suhu di kawasan TN BTS bisa anjlok sekitar -4° hingga -8°C! Rumput hijau, tanaman kentang dan tumbuhan lainnya akan membeku dan mati. Penduduk Tengger menyebutnya embun upas. Memang pertengahan April dan Juli menjadi bulan-bulan terdingin dalam kawasan TN BTS. Embun beku juga melanda Segoro Wedi di kaldera Tengger, membuat jalur pendakian menuju puncak Mahameru  dipenuhi gumpalan-gumpalan es. 

Sejak 2012, TN BTS sangat banyak dikunjungi wisatawan dan jumlahnya terus naik.  Mereka yang datang adalah yang bermaksud merasakan sensasi mendaki gunung paling tinggi di Pulau Jawa ini. Bisa dikatakan, pendakian ke Gunung Semeru tidak pernah surut.

Menurut Andi Gondronk, pengamat pendakian ke Gunung Semeru, jumlah pendaki semakin bertambah setiap tahun dalam hitungan ratusan ribu orang! Pernah awal 2013, dalam satu hari hampir sekitar 3.000 pendaki memasuki kawasan Gunung Semeru.

Banyaknya pendaki yang antusias membuat pengelola TN BTS membatasi kuota. Kini, hanya 600 pendaki yang memenuhi syarat yang boleh naik ke Gunung Semeru setiap harinya. Bulan-bulan paling ramai pendakian ke Semeru adalah pada Juni sampai dengan Agustus atau November dan Desember, masa-masa liburan akhir tahun.