Masjid Cut Meutia, Berdiri Megah Sejak Seabad yang Lalu

Bangunan Masjid Cut Meutia dibangun oleh P.A.J Moojen pada 1910 dan selesai 1912. Awalnya, bangunan ini dikenal dengan nama Kantor NV De Bouwploed yang merupakan kantor biro ristek pada zaman Hindia Belanda.

Banyak gedung tua di Jakarta, tapi satu yang paling terkenal dan dijadikan ikon adalah Masjid Cut Meutia. Siapa sangka, meski sekarang dijadikan tempat beribadah, Masjid Cut Meutia memiliki sejarah panjang dan sering berganti-ganti fungsi sejak dibangun.

Bangunan Masjid Cut Meutia dibangun oleh P.A.J Moojen pada 1910 dan selesai 1912. Awalnya, bangunan ini dikenal dengan nama Kantor NV De Bouwploed yang merupakan kantor biro ristek pada zaman Hindia Belanda.

Namun, sejak Moojen hengkang untuk mengerjakan proyek lain pada 1918, bangunan ini malah mengalami pailit. Setelah itu, bangunan ini digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari kantor pos, kantor perusahaan kereta api Belanda, kantor Angkatan Laut Jepang, kantor sekretariat MPRS dan KUA.

Baru pada 1987, Gubernur Ali Sadikin memutuskan bangunan ini dijadikan sebagai masjid. Awalnya, bangunan ini diberi nama Masjid Al Jihad. Namun, entah sejak kapan masjid ini berubah nama menjadi Cut Meutia, mungkin karena berada di Jalan Cut Meutia.

Masjid Cut Meutia kemudian berada di bawah pengawasan Dinas Museum dan Sejarah dan menjadi cagar budaya yang dilindungi. Uniknya, bentuk bangunan ini tidak diubah demi mempertahankan keasliannya.

Arsitektur Masjid Cut Meutia kental dengan nuansa Eropa bergaya Art Nouveau. Di dalam bangunan ini terdapat pilar-pilar besar. Masjid Cut Meutia memiliki 50 jendela dengan 16 pintu yang tersebar di berbagai sisi.

Di bagian tengah ruangan ada area yang sangat besar. Ruangan ini menjadi area untuk salat yang dibagi menjadi area untuk laki-laki, perempuan. Ada juga area yang dijadikan kantor sekretariat untuk pengurus masjid.

Karena awalnya memang bukan untuk masjid, jadi mimbar dengan arah sajadah yang membentang tidak sama. Masjid Cut Meutia juga tidak menghadap ke kiblat dan tidak memiliki kubah. Namun, tentu tidak mengurangi nilai religi dan ibadah para jamaah.

Meski kini diperuntukkan untuk salat, tak jarang wisatawan yang datang ke sini untuk menikmati kemegahan dan keindahan arsitektur Masjid Cut Muetia. Sejak berdiri, Masjid Cut Meutia mengalami renovasi sebanyak dua kali. Ternyata saat proses renovasi, masjid juga pernah dipindahlan ke Jalan Johar dengan nama Masjid Cut Nyak Dien.

Jika Sobat Pesona ingin berkunjung ke Masjid Cu Meutia, datanglah di saat mendekati waktu salat agar bisa merasakan tenangnya beribadah di dalam bangunan berusia lebih dari seabad ini. Setelah salat, Sobat Pesona bisa melanjutkan berkeliling area masjid sambil mempelajari sejarah bangunan yang berdiri di pusat Kota Jakarta ini.