Tradisi Bakar Tongkang, Ritual Doa dan Syukur Tionghoa Bagansiapiapi

Ritual kuno untuk mengenang para migran Tiongkok pertama yang meninggalkan tanah air mereka dan menetap di Riau. Bakar tongkang atau kapal merupakan simbol berakhirnya pelayaran mereka. Replika kapal seberat 400 kg, didoakan dan diberkati di Kuil Eng Hok King, lalu dibakar.

Kota Bagansiapiapi yang biasanya sepi terlihat ramai menyambut Festival Bakar Tongkang tahun ini. Satu sudut jalan terlihat ditutup dan dibangun panggung, ruas jalan lain, di depan Kantor Dekranasda, tepatnya di Jalan Perwira, dipasangi ratusan payung hias oleh Pemda Rohan Hilir, Riau.

Karena jalan yang biasanya biasanya dilewati sepeda motor dan mobil ini ditutup, warga dan wisatawan yang datang dapat memanfaatkan situasi ini untuk berfoto dan bermain. Penyewaan sepeda tua, becak-becakan dan badut jadi menambah ramai jalan ini. Di tempat ini juga dipajang foto-foto kota dan tokoh-tokoh Bagansiapiapi masa lalu.

Di seberang Jalan Perwira, tepatnya di jalan Aman, ribuan lidi hio berukuran raksasa dipasang. Jalan ini juga ditutup untuk perhelatan besar Tradisi Bakar Tongkang. Beberapa orang terlihat sibuk menyalakan hio. Salah satu warga Bagansiapiapi, Bang Ramli, menyalakan hio persembahan karena doanya terkabul, istrinya sudah sehat.

Para pemilik hio bertanggung jawab terhadap hio-nya masing-masing.  Hio-hio ini adalah persembahan dari mereka yang doanya dikabulkan pada Festival Bakar Tongkang tahun lalu. Persembahannya bisa macam-macam tidak harus berbentuk hio , misalnya memberi minum peserta ritual, membersihkan jalan untuk dilalui Tongkang yang diarak ke tempat pembakaran dan lainnya.


Simbol Akhir Pelayaran
Tradisi Bakar Tongkang tahun ini berpusat di kelenteng In Ho Kiong. Replika tongkang yang akan dibakar dipajang, berbagai lilin ukuran raksasa sudah dinyalakan. Seratus meter dari kelenteng terdapat satu gedung yang menjadi pusat keramaian malam ini. Di dalam gedung bernama Ip Plaza itu diadakan pentas hiburan artis-artis dari Malaysia dan Taiwan yang menyanyikan lagu-lagu Mandarin. Dua layar besar di pasang di samping gedung itu dan para penonton yang tak bisa masuk ke gedung bisa menonton dari luar, kursi-kursi disiapkan di sepanjang jalan.

Gedung Ip Plaza yang megah ini dibangun oleh Sugianto, seorang pengusaha yang biasa dipanggil dengan sebutan Toke Baut oleh warga setempat. Gedung ini hanya digunakan pada acara-acara tertentu saja misalnya Tahun Baru China atau Festival Bakar Tongkang seperti ini.

Cafe-cafe sekitar acara terlihat penuh, para pembeli memenuhi kursi-kursi sambil asik menikmati penampilan artis yang di dalam gedung Ip Plaza dari layar lebar di luar gedung. Selain itu pedagang kaki lima juga terlihat memenuhi area sekitar kelenteng. Pedagang yang menjual kertas doa, hio dan peralatan sembahyang lainnya terlihat membuka lapak seadanya.

Tradisi Bakar Tongkang merupakan ritual kuno untuk mengenang para migran Tiongkok pertama yang meninggalkan tanah air mereka dan menetap di Riau. Bakar tongkang atau kapal merupakan simbol berakhirnya pelayaran mereka.

Replika kapal berukuran hingga 8,5 meter, lebar 1,7 meter dan berat mencapai 400 kg yang disimpan selama satu malam di Kuil Eng Hok King, diberkati, kemudian dibawa dalam prosesi melalui kota ke situs di mana akan dibakar.

Prosesi Bakar Tongkang biasanya juga melibatkan atraksi Tan Ki, pertunjukan kemampuan fisik dengan menusuk diri dengan pisau atau tombak tajam. Luar biasanya, aksi tersebut tidak melukai meskipun senjata yang digunakan tajam, agak mirip dengan tradisi Tatung di Singkawang, Kalimantan Barat.


Foto : Mus Rahmad