Telinga Panjang dan Bertato, Nilai Kecantikan Wanita Suku Dayak

Tradisi memanjangkan telinga sudah mulai dilakukan kepada orang yang terpilih sejak usia belia bahkan bayi dengan cara menindik telinga dengan bilah bambu kecil, perlahan diperbesar dengan bilah bambu yang lebih besar seiring dengan bertambahnya usia.

Telinga Panjang atau dalam bahasa Dayak di sebut “Telingaa Aruu” atau Cuping Panjang merupakan simbol kecantikan yang hakiki bagi wanita Suku Dayak. Sejatinya, tradisi memanjangkan telinga adalah simbol kehormatan, keagungan dan kesabaran bagi pemakainya juga bagi puak-nya. Semakin panjang kupingnya, semakin cantiklah ia.

Tradisi memanjangkan telinga sudah mulai dilakukan kepada orang yang terpilih sejak usia belia bahkan bayi dengan cara menindik telinga dengan bilah bambu kecil, perlahan diperbesar dengan bilah bambu yang lebih besar. Kemudian mulai digantungi dengan hisang (anting-anting) kecil secara bertahap dan akan diganti dengan hisang yang lebih besar. Hisang akan ditambah satu demi satu sejalan dengan bertambahnya usia hingga panjang cuping telinga mencapai bahu.

Yeq Lawing merupakan nenek telinga panjang yang ada di Desa Long Isun. Tahun ini, Nenek Yeq Lawing genap berusia 70 tahun. Dia memiliki 37 pasang hisang di telinganya.  Sementara Payaq Mujan yang kini berusaia 80 tahun dari Desa Long Pahangai  memiliki 20 pasang hisang. Dan Dom Tod yang berusia 105 tahun dari Desa Bea Nehas hanya memakai 1 pasang hisang besar saja meski telinganya hampir menyentuh dada. 

Kecantikan yang hakiki bagi suku Dayak tidak saja bertelinga panjang, melainkan juga rajah yang menghiasi punggung tangan, kaki bahkan hingga pangkal paha. Telinga panjang adalah sebuah pilihan, tetapi rajah adalah keharusan. Wanita Dayak "didewasakan" dengan rajah. Mereka tidak diperkenankan menikah sebelum dirajah. Motif  rajah yang menghiasi tubuh wanita Dayak sarat dengan makna. Mencerminkan identitas diri dan status sosial.

Bagi kaum Bangsawan,  Rajah yang melingkar betisnya hingga 4 tahap, dari  lutut hingga pangkal paha penuh dengan hiasan rajah juga dari punggung tangan hingga siku.  Semakin rumit dan semakin detail motif rajah semakin tinggi  kehormatannya.

Berbeda dengan proses memanjangkan telinga yang dilakukan sejak bayi. Perajahan mulai dilakukan sejak mereka menginjak usia remaja. Dengan menggunakan jarum bermata tiga yang diikat dengan tongkat kayu. Motif yang sudah tercetak diatas kayu kemudian ditempelkan di permukaan  kulit lengan, kaki dan paha. 

Lalu jarum yang sudah dicelup dengan tinta yang terbuat dari arang jelaga damar yang dicampur dengan air panas dipukul-pukulkan ke permukaan kulit sesuai dengan motif yang telah tercetak. Bertahap dilakukan sejak pagi hari hingga  petang di sebuah pondok di ladang atau di hutan. Berhari-hari dilakukan hingga mencapai motif yang sempurna.

Telinga Panjang dan Rajah sebagai simbol kecantikan wanita Dayak, khususnya Dayak Aoheng/Penihing, Bahau, Kayan, Kenyah, Punan, Wehea ( Rumpun Modang), yang telah berlangsung ratusan tahun kini terancam keberadaannya. Semakin sulit menemui para pewaris telinga panjang yang tersisa. Hanya beberapa orang saja di setiap desa terpencil sepanjang sungai Mahakam, Kabupaten Mahakam Hulu, beberapa desa di kabupaten Kutai Timur, Berau  Kalimantan Timur dan di Kalimatan Utara.

Di Desa Long Pahangai, tepat di jantung Pulau Kalimantan, masih tersisa 9 nenek bertelinga panjang. Mereka adalah suku Dayak Bahau Umaaq Suling. Di desa ini mungkin yang paling banyak tersisa nenek telinga panjang  di antara suku Dayak lainnya. Namun, perlu perjalanan 2 hari 2 malam melalui  jalur sungai dari Samarinda untuk mencapai desa tersebut.

Reporter: Ati Bachtiar