Mempertanyakan Kembali Kemunculannya Aksara Pallawa

Prasasti Mulawarman atau sering disebut Prasasti Kutai adalah peninggalan Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur yang berjumlah tujuh buah yupa. Prasasti ini bertuliskan aksara Pallawa dan menggunakan Bahasa Sanskerta. Prasasti ini diperkirakan berasal dari abad ke-4.

Ketika tengah membicarakan awal mula tradisi tulis di Nusantara, artefak bertulis akan dijadikan patokan usia zaman yaitu dengan melihat aksara yang digunakan. Prasasti Mulawarman diketahui sebagai prasasti yang tertua dengan menggunakan aksara Pallawa dan Bahasa Sansekerta.

Prasasti Mulawarman atau sering disebut Prasasti Kutai adalah peninggalan Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur yang berjumlah tujuh buah yupa. Prasasti ini bertuliskan aksara Pallawa dan menggunakan Bahasa Sanskerta. Prasasti ini diperkirakan berasal dari abad ke-4.

Isi prasasti tertua tersebut menceritakan seorang raja yang memberikan sumbangan kepada para kaum Brahmana berupa sejumlah sapi. Selain di Kutai, prasasti beraksara Pallawa juga ditemukan pada Prasasti Ciauruteun dari Bogor, Jawa Barat, juga berbahasa Sanskerta yang diperkirakan berasal dari abad ke-5. Ada pun prasasti lainnya yang ditemukan adalah Prasasti Tugu di Jakarta Utara dari abad ke-5, dan Prasasti Canggal di Magelang dari abad ke-8.

Lantas, bagaimana sebuah sistem penulisan yang menggunakan aksara Pallawa pada sejumlah prasasti dibuat dengan tujuan agar bisa dimengerti oleh “khalayak umum”? Bagaimana “semestinya” mereka bisa memahami sistem penulisan bisa mengerti dengan baik berdasarkan bunyi dari aksara Pallawa dan Bahasa Sanskerta tersebut?  Dan dari golongan manakah mereka?

Misalnya, pesan tertulis pada prasasti yang ingin disampaikan “semestinya” ditujukan kepada pihak-pihak yang mengerti agar bisa menerima informasi. Bisa jadi “konsumen” dari pemberitaan prasasti yang dimaksud berbentuk kemungkinan yang pertama, yaitu mereka yang berasal dari masyarakat yang berbahasa Sanskerta dan terbiasa melihat dan membaca aksara Pallawa. Tersebut berasal dari India.

Kemungkinan kedua, mereka bukanlah berasal dari masyarakat yang sehari-hari menggunakan Bahasa Sanskerta dan terbiasa dengan aksara Pallawa, tapi mereka yang mampu berkomunikasi dengan bahasa dan aksara dalam prasasti. Ini artinya, mereka terbiasa berinteraksi intens dengan para pengguna aksara Pallawa dan berbahasa Sanskerta.

Hal tersebut bisa dipertanyakan pada para pengguna aksara dan bahasa di tempat penemuan prasasti seperti di Bogor, Kutai, Jakarta Utara, dan Magelang. Apakah mereka berada di pihak “produsen” prasasti atau “konsumen”? Satu hal yang pasti, prasasti tersebut berhubungan dengan kebutuhannya saat itu.

Daerah-daerah tersebut merupakan jalur perekonomian dan politik sehingga sering mengalami kontak budaya melalui alkulturasi dengan para pedagang dan pelayar, khususnya dari India. Kemudian, masyarakat di daerah itu menganggap Bahasa Sansekerta dan Pallawa sebagai bahasa “internasional”.

Artinya, kontak budaya inilah yang memungkinkan menyebabkan terjadinya penyerapan unsur-unsur kebudayaan India dan perpaduannya ke dalam kehidupan setempat. Namun, tidak diketahui apakah proses ini pernah dianggap oleh para peneliti masa lalu sebagai penyebab terbentuknya perubahan tatanan kehidupan sosial dan budaya yang berlatar kebudayaan India.

Terlebih lagi apakah kontak budaya ini yang membentuk sebuah institusi berupa kerajaan seperti Kerajaan Tarumanagara dan Kerajaan Kutai yang “diidentikkan” mengalami perkembangan sistem “agama baru” yaitu Hindu? Seberapa besar aksara Pallawa dan Bahasa Sanskerta terhadap “kemunculan” aksara-aksara lainnya di negeri ini? Belum ada jawaban pasti, meski beberapa peneliti sudah pernah membahasnya dan merunutkan silsilah periodisasinya.

Foto: Dokumentasi Sinta Ridwan (Koleksi Munas - Kode D 175 - Aksara Pallawa, Koleksi Munas - Kode D 175 - Aksara Pallawa, Koleksi Aksakun - Kode 2 - Aksara Pallawa)