Jamu, Minuman Berkhasiat Tradisi Turun Temurun

Jamu terbuat dari bahan-bahan alami yang berasal dari rimpang (akar-akaran), daun-daunan, kulit, batang dan buah suatu tanaman. Beberapa jamu juga menggunakan bagian hewan seperti empedu kambing, empedu ular atau tangku buaya.

Kekayaan rempah-rempah yang tumbuh subur di Indonesia menghasilkan minuman kaya khasiat bernama jamu. Jamu dikenal sebagai obat untuk berbagai penyakit, tergantung bahan baku yang dipakai.
Kata "jamu" berasal dari bahasa Jawa Kuno yaitu "djampi"  dan "oesodo". "Djampi" artinya penyembuhan menggunakan obat dan doa, sementara "oesodo" artinya kesehatan.

Konon, tradisi minum jamu sudah dimulai sejak 1300 pada zaman Kerajaan Mataram. Para wanita yang bertugas untuk memasak jamu, sementara pria yang mencari tumbuhan herbal sebagai bahan dasar jamu.

Jamu terbuat dari bahan-bahan alami yang berasal dari rimpang (akar-akaran), daun-daunan, kulit, batang dan buah suatu tanaman. Beberapa jamu juga menggunakan bagian hewan seperti empedu kambing, empedu ular atau tangku buaya. Jamu paling sering ditambahkan dengan kuning telur ayam kampung.

Jamu pertama kali muncul di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Dari daerah tersebut, jamu mulai di jual dengan cara digendong menggunakan kain. Penjual jamu gendong bisanya adalah para perempuan dan berjalan ke rumah-rumah.

Jamu yang sudah jadi dimasukkan ke dalam botol yang disusun ke dalam bakul. Jamu gendong memang dijual setiap hari dengan tujuan untuk menyehatkan para pembelinya.

Menurut data, setidaknya ada 2,1 juta jenis jamu yang ada di Indonesia dari setidaknya 30 jenis tanaman herbal. Jamu dipakai untuk mengobati penyakit tertentu, menambah stamina serta pengobatan alami untuk penyakit lainnya.

Dari jenis-jenis jamu tersebut, yang populer adalah beras kencur. Jamu ini terbuat dari beras dan kencur. Jamu beras kencur berkhasiat untuk menghilangkan pegal-pegal tubuh dan meringankan gejala batuk.

Setiap penjual jamu memiliki racikan sendiri, seperti menambahkan biji kedawung, jahe, kunir atau gula merah. Bahan-bahan itu kemudian disangrai lalu ditumbuk sampai halus. Bahan yang sudah jadi bubuk itu kemudian diseduh dengan air mendidih sambil disaring.

Saat ilmu kedokteran makin berkembang di Indonesia, konsumsi jamu sempat menurun. Namun, pada masa penjajahan Jepang pada 1944, jamu kembali populer dengan munculnya beberapa komite jamu di Indonesia.

Selain jamu olahan, ada juga jamu yang diproduksi oleh pabrik-pabrik. Sobat Pesona pasti kenal dengan Jamu Air Mancur, Nyonya Meneer atau Djamu Djago, kan. Nah, pabrik-pabrik ini menjual jamu dalam kemasan sachet. Lalu, dengan berkembangnya teknologi di nusantara, jamu juga dikemas dalam bentuk tablet agar lebih mudah diminum.

Saat ini, sudah jarang jamu gendong yang dijual ke rumah-rumah. Namun, masih ada beberapa kios yang khusus menjual jamu. Ada juga sejumlah restoran yang menambahkan jamu dalam daftar menu. Yuk, minum jamu dan lanjutkan tradisi turun temurun ini!