Lukis Kaca Cirebon, Adaptasi Seni Eropa dengan Budaya Lokal

Persentuhan yang dialami sejak awal abad ke-15 dengan kebudayaan luar itu telah mengubah Cirebon menjadi titik pusat kesenian yang memberi warna khas bagi sejarah kebudayaan Indonesia.

Secara geografis, Kota Cirebon terletak di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Secara kultural, Cirebon diapit oleh dua arus besar kebudayaan yang dominan, Jawa dan Sunda. Dua pengaruh kebudayaan ini kemudian bersentuhan lagi dengan pengaruh lain dari Tiongkok, Hindu, Islam dan negara barat yang akhirnya bercampur aduk menjadi  akulturasi  yang membentuk kebudayaan khas Cirebon. Bentuk-bentuk kesenian khas Cirebon itu dapat ditemui dalam ragam hias tradisional Cirebon dalam bentuk kerajinan seperti Batik,  lukis kaca,  keramik dan topeng.

Persentuhan yang dialami sejak awal abad ke-15 dengan kebudayaan luar itu telah mengubah Cirebon menjadi titik pusat kesenian yang memberi warna khas bagi sejarah kebudayaan Indonesia. Lukisan diatas media kaca sesungguhnya berasal dari Eropa di abad ke-17 sejalan dengan ditemukannya kaca sebagai perkembangan industri  2 abad sebelumnya.

Biasanya lukis kaca dibuat dengan gambar tokoh atau ikon tertentu yang menjadi bagian dari kebutuhan hiasan arsitektur. Melalui proses yang panjang dari Barat, teknis melukis kaca menyebar hingga ke Asia Tenggara. Menurut pakar seni lukis dari Jepang Profesor Seiichi Sasaki menyebutkan bahwa ternyata secara teknis maupun tema pengungkapan lukis kaca di Asia memiliki ciri tertentu yang cenderung sudah menyimpang dari asalnya di Barat.

Lukisan kaca dari Eropa biasanya berbentuk realis dengan objek seorang gadis atau seorang pria muda berambut atau pria dalam posisi setengah badan. Bentuk kaca yang digunakan biasanya oval dan cembung. Pigura kaca dihias dengan ornamen keemasan. Indah seperti lukisan gaya Renaissance.

 

Sementara lukisan kaca khas Tiongkok dilukis bolak balik, bukan hanya dari satu sisi saja. Berbeda lagi dengan lukisan kaca dari Jepang yang lebih sering berlatar Gunung Fujiyama dengan geisha yang sedang menyusuri jalan setapak di sebuah telaga. Lukisan kaca khas Jepang ditambah hiasan yang terbuat dari serpihan-serpihan kerang mutiara. Hiasan tersebut biasanya ditempelkan di pada bentuk tertentu seperti rumah agar terlihat berkelap-kelip.

Di Indonesia, lukis kaca tumbuh subur di beberapa tempat termasuk Cirebon. Lukis kaca Cirebon telah sampai pada keunikan yang khas menyangkut tema dan cara penuturannya yang berakar kepada tradisi campuran dari pengaruh Tiongkok, Jawa Hindu dan Islam.  Pengaruh China muncul dalam ornamen mega dan batu karang yang disebut sebagai megamendung dan wadasan. Nuansa Islam dapat dilihat dari kaligrafi Arab sedangkan unsur Hindu dan Jawa dalam wujud wayang kulit serta ragam hias.

Para pelukis kaca di Cirebon berkembang di berbagai wilayah. Di Gegesik Kulon, ciri khasnya salah satu pengrajin bernama Rastika menciptakan lukisan berbagai adegan pewayangan sampai tema yang menyentuh bentuk modern. 

Dari Gegesik Wetan, Bahendi menggarap tema eksperimentasi teknik yang lebih modern dengan menambahkan cat sembur (pylox) sebagai latar belakang yang menghasilkan efek  tekstur yang memberi kemungkinan baru. Di Trusmi Sugro cenderung melukis wayang dan elemen kaligrafi Arab sebagai selingan. 

Sedangkan di Parit Utara Astana Gunung Jati, pelukis Salim menyukai kaligrafi dengan pola hias gradasi yang bertingkat-tingkat. Sementara Hasan Basyari Salim lebih tertarik melukis tokoh wayang. Gegesik, sebagai kampung seni yang banyak melahirkan seniman, setiap tahun menggelar karya-karya mereka dalam berbagai kesempatan.  

Reporter: Ati Bachtiar