Filolog & Epigraf, Peneliti Masa Lalu dari Masa Kini

Tugas filolog dan epigraf sendiri secara umum adalah sebagai jembatan penyampai masa lalu kepada masa kini dan masa depan. Begitu pula untuk menentukan kisah sejarah, sejarawan memerlukan pekerjaan epigraf dan filolog guna menentukan sebuah kisah sejarah yang utuh.

Terdapat dua peneliti khususon masa lalu dari beberapa “ragam” penelitian yang berhubungan dengan aksara kuna pada naskah kuna dan prasasti yaitu filolog dan epigraf. Filolog merupakan sebutan ahli filologi yang mengkaji secara khusus naskah-naskah kuna. Filologi sendiri masuk ke dalam ranah Ilmu Kesusastraan yang bertugas membaca aksara kuna dan bahasa kuna.

Filolog membuat studi kasus tentang teks-teks sastra lampau yang tertulis pada naskah kuna dan berakhir pada penetapan serta keotentikan naskah kuna. Ilmu ini juga menelusuri keaslian dan pembentukan teks serta penentuan makna-makna yang diwujudkan oleh aksara kuna.

Tugas filolog bukan hanya membaca naskah kuna tetapi melaporkan kondisi dan keadaan naskah kuna itu sendiri, termasuk mengungkapkan kesalahan penulisan setelah disandingkan dengan pedoman yang berlaku. Filolog juga bertugas untuk menginterpretasikan isi teks pada naskah kuna sehingga bisa dipahami oleh orang awam.

Tugas filolog dan epigraf sendiri secara umum adalah sebagai jembatan penyampai masa lalu kepada masa kini dan masa depan. Begitu pula untuk menentukan kisah sejarah, sejarawan memerlukan pekerjaan epigraf dan filolog guna menentukan sebuah kisah sejarah yang utuh  berdasarkan data-data tertulis dari hasil sudut pandang “orang sendiri”.

Sementara epigraf merupakan ahli epigrafi yang masuk ke dalam ranah Ilmu Arkeologi. Epigraf memiliki kemampuan menganalisis fisik prasasti termasuk kegiatan penting di dalamnya lewat membaca bahasa kuna dan aksara kuna yang tergoreskan.

Penelitian bagi filolog dan epigraf memiliki tahapan tersendiri ketika berhadapan dengan naskah kuna dan prasasti. Misalnya, ketika epigraf "menemukan" keberadaan prasasti yang belum diketahui kondisinya. Tugas utama epigraf adalah menginventarisasi dan melakukan pendataan pada temuan tersebut, termasuk keadaannya seperti apakah goresan aksaranya sulit dibaca atau apalah kondisi batu sudah terkikis waktu dan sebagainya.

Setelah itu, epigraf akan mendeskripsikan secara rinci jenis media tulis, batu berjenis apa, kertas buatan apa, apakah ada cap pabrik pada lembaran kertas, gaya bahasa, gaya aksara, gaya penulisan, kepemilikan, posisi apakah berpindah atau masih in situ. Catatan tersebut dibuat demi mengutarakan kondisi dan mempermudah penyampaian pokok-pokok isi kandungan teks di dalamnya.

Ada pula proses memperbandingkan naskah kuna dan prasasti dilakukan ketika ditemukan hal-hal yang dirasa kurang utuh, termasuk ke dalam proses membetulkan kesalahan kata-kata atau ketika sudah tidak bisa terbaca. Proses ini berguna untuk menentukan silsilah keberadaan keduanya dan demi mendapatkan artefak bertulis yang “baik” dan sebagainya agar bisa diungkap lagi lebih lanjut. Biasanya teks yang tertulis pada naskah kuna terjadi kesalahan diakibatkan pada waktu proses penyalinan yang bergantung kepada siapakah penulisnya, apakah menguasai tata bahasa atau sekadar dari proses penulisan dari sumber lisan.

Jadi, keberadaan filolog dan epigraf amat penting dalam mengungkap artefak bertulis yang mungkin masih belum terdata dan belum diterjemahkan ke dalam bahasa yang kita mengerti. Mereka amat membantu memperkaya khazanah naskah kuna dan prasasti di nusantara agar bisa dimengerti oleh generasi saat ini.

Dokumentasi Sinta Ridwan (Koleksi Perpusnas Kode L 632a Peti 16 - Aksara Sunda Kuna, Koleksi Perpusnas - Kode AS 7 - Aksara Jawa)