Perupun, Tempat Harta Sang Bangsawan Suku Dayak Lundayeh

Meski tertutup rumput dan tanah, misteri dan sisi magis Perupun tidak bisa disembunyikan.

Perupun atau kumpulan batu adalah sebuah kuburan bagi bangsawan Dayak Lundayeh. Saking kunonya, sulit untuk menebak usia Perupun yang dimiliki Suku Dayak Lundayeh asli Kalimantan Utara ini. Namun, misteri turun temurun tentang Perupun tidak akan hilang ditelan masa.

Perupun berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar dua meter yang hampir seluruh bagiannya terkubur di bawah tanah hingga membentuk sebuah bukit kecil. Menurut pemandu lokal, luas ruangan di dalamnya mencapai empat meter dan menjadi tempat bagi jasad bangsawan dari Suku Dayak Lundayeh menyimpan seluruh harta bendanya. Bagian depan atau pintu Perupun ditutup dengan bebatuan, mulai dari yang kecil hingga yang besar, seakan membentuk sebuah monumen. Di bagian atas Perupun ditutup dengan sebuah batu besar untuk mencegah pencuri mengambil harta yang tersimpan di dalamnya.

Para bangsawan Suku Dayak Lundayeh pada masa itu merupakan mereka yang hidup selibat atau  tanpa pernikahan atau keturunan. Jadi, mereka tidak memiliki ahli waris. Maka dari itu, seluruh harta benda yang masuk ke dalam barang-barang para bangsawan ini dibawa ke Perupun. Sementara harta berupa hewan ternak akan dipotong dan dikonsumsi oleh penduduk desa dalam pesta kematian sang bangsawan.

Jika Sobat Pesona ingin berkunjung ke salah satu situs Perupun, bersiaplah untuk trekking ke dalam hutan yang lebat di tengah pemukiman Desa Terang Baru. Perupun terletak di tengah pemukiman dan langsung bisa dikenali dengan adanya bukit kecil di tengah ladang, sawah dan pemukiman.  Ada tiga situs Perupun yang kami lihat, tapi hanya satu yang dilindungi oleh dinas terkait. Terlihat dari adanya pagar di sekelilingnya. 

Di situs kedua kami harus meminta izin dari kepada pemilik rumah karena Perupun berada di pekarangan miliknya. Situs Perupun ini tidak terlalu tinggi, tapi batunya lebih besar dari yang lainnya. Perupun ini masih cukup terawat dan tidak ada yang berani untuk membongkarnya karena adanya aturan adat yang sangat ditaati oleh masyarakat.

Perupun Dijaga oleh Mepaa
Tidak akan ada masyarakat yang berani mencuri harta yang disimpan di dalam Perupun. Ini karena warga lokal percaya bahwa Perupun dijaga oleh Mepaa. Mepaa merupakan sebuah sanksi alam bagi masyarakat Suku Dayak Lundayeh yang melakukan perbuatan tidak baik atau dilarang. Dalam Bahasa Indonesia, Mepaa mungkin bisa disebut dengan "karma".

Meskipun sebagian besar masyarakat Suku Dayak Lundayeh telah memeluk agama modern sejak 1930-an, mereka percaya tradisi lokal yang tetap dipertahankan. Mereka meyakini bahwa para bangsawa  pemilik Perupun menguasai kekuatan magis atau Mepaa. Jadi, meski Perupun dibiarkan tidak dijaga, tidak akan ada masyarakat Suku Lundayeh yang berani membongkarnya.