Perkembangan Barisan & Liukan Aksara-Aksara Kuna di Nusantara

Sistem penulisan susunan aksara kuna sebagai bentuk visual dan simbol dari sebuah bahasa kuna tiap wilayah yang mewakilinya dapat diketahui maknanya dalam sebuah sistem penulisan yang bisa dibaca sesuai konteks tertentu.

Goresan berbentuk aksara kuna dapat dimengerti sebagai sebuah sistem dari tanda visual atau simbol maupun grafis yang tertulis pada media tulis pada prasasti dan naskah kuna. Aksara kuna merupakan wujud dari tradisi tulis yang merekam dan menyimpan pikiran, gagasan, perasaan dan keterampilan nenek moyang dalam melahirkan ilmu pengetahuan, teknologi, sastra, seni, kebudayaan, dan sebagainya. Selain berisi pengetahuan dan hal lainnya, aksara kuna digunakan sesuai kebutuhan pada masanya, seperti untuk mencatat tentang perdagangan atau ekonomi.

Sistem penulisan susunan aksara kuna sebagai bentuk visual dan simbol dari sebuah bahasa kuna tiap wilayah yang mewakilinya dapat diketahui maknanya dalam sebuah sistem penulisan yang bisa dibaca sesuai konteks tertentu. Aksara kuna sendiri merupakan media yang muncul dari kepentingan untuk menyampaikan satu pesan dari satu pihak ke pihak lainnya yang terjadi di masa lampau.

 

Dikarenakan aksara kuna merupakan alat dalam suatu bentuk komunikasi untuk menyampaikan pesan dan informasi, maka hal terpenting yang harus diperhatikan adalah isi kandungnnya. Tentang persoalan dari apa yang hendak disampaikan.

 

Runtutan aksara-aksara kuna dapat disebut juga sebagai silabis sistem tulisan yang menggunakan satu lambang untuk satu suku kata. Adapun pembagian perkembangan aksara kuna di Indonesia dibagi dalam lima bagian. Mulai dari aksara kuna sebelum pertengahan abad ke-8 yaitu, Aksara Palawa Awal (abad ke-4 hingga abad ke-5) dan Aksara Palawa Akhir (abad ke-5 hingga abad ke-7). Kemudian masuk Aksara Kawi Awal (abad ke-8 hingga abad ke-10).  Ada Fase Arkaik dan Bentuk Standar Kawi Awal, tersisipkan Aksara Siddham (abad ke-8 hingga abad ke-9) dan Aksara Tamil (abad ke-12, abad ke-14 dan abad ke-17).

 

Kemudian masuk ke dalam perkembangan Aksara Nagari Awal, Aksara Kawi Muda atau Kawi Akhir sekitar abad ke-10 hingga ke-13. Dapat terbagi menjadi Aksara Jawa Kuna (abad ke-8 hingga abad ke-15), Aksara Sunda Kuna (abad ke-14 hingga abad ke-16), Aksara Sumatera Kuna (abad ke-10 hingga abad ke-15) dan Aksara Bali Kuna (abad ke-9 hingga abad ke-15).

 

Kemunculan aksara-aksara kuna di Jawa dan daerah-daerah pada periode Majapahit (pada abad ke-13 hingga abad ke-15), lalu aksara-aksara di Nusantara mulai dari abad ke-15 dan masuknya tulisan-tulisan asing seperti Aksara Arab, Aksara Latin dan sebagainya.

 

Persebaran dan perkembangan aksara kuna di Nusantara dapat dilihat dari keberadaannya pada sebuah etnis tertentu, ragam keberaksaraan kuna dapat diperhatikan sebagian dari susunan “abjadnya” maupun nama daerahnya, misalnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur yaitu Aksara Hanacaraka atau Aksara Carakan, khusus di Jawa Tengah di antara Gunung Merapi-Merbabu dan beberapa daerah di Jawa Barat seperti di Garut dan Karawang ada Aksara Buda.

Di sebagian besar Jawa Barat dan Banten ada Aksara Cacarakan, di Bali ada Aksara Bali, di Lombok ada Aksara Sasak, Aksara Kaganga atau Aksara Khad Lampung di Lampung, Aksara Ulu di Bengkulu, Aksara Incung di Jambi dan Kerinci, Surat (Aksara) Batak di Sumatera Utara terdapat lebih rinci Aksara Mandailing, Toba, Karo, Pakpak-Dairi, dan Simalungun, ada juga Aksara Lontara atau Bugis Makassar di Sulawesi Selatan, Aksara Mbojo di Bima (Sumbawa), Aksara Lota di Éndé Nusa Tenggara Timur juga Aksara Humba di Sumba.

Foto: Dokumentasi Sinta Ridwan (Koleksi Perpusnas Kode Kode NB 27A - Aksara Lontara, Koleksi Perpusnas Kode Peti 65 1001 - Aksara Bali, Koleksi Perpusnas Kode 88 L 622 - Aksara Sunda Kuna)