Melihat Buaya Tanah, Lambang Keberanian Suku Dayak Lundayeh

Kehadiran Buaya Tanah berawal lahir dari tradisi Mengayau yang dilakukan masyarakat lokal puluhan tahun yang lalu. Mengayau adalah tradisi memenggal kepala yang dilakukan Suku Dayak Lundayeh pada 1930.

Jika Sobat Pesona berkesempatan berpetualang di Dataran Tinggi Krayan, Kalimantan Utara, bersiaplah untuk merasakan keindahan alam bercampur dengan budaya yang masih terjaga hingga saat ini. Salah satunya adalah cerita tentang Mengayau dari Suku Dayak Lundayeh yang bisa membuat kita merinding.

Kisah ini diceritakan oleh Pak Melud yang pemandu kami selama trekking menuju situs Buaya Tanah. Kehadiran Buaya Tanah berawal lahir dari tradisi Mengayau yang dilakukan masyarakat lokal puluhan tahun yang lalu. Mengayau adalah tradisi memenggal kepala yang dilakukan Suku Dayak Lundayeh pada 1930. Di zaman itu, suatu masalah diselesaikan dengan perang. Tak terhitung berapa kepala yang dipenggal selama Mengayau berlangsung.

Usai Mengayau, masyarakat Suku Dayak Lundayeh akan berpesta di sebidang tanah yang tidak rata. Mereka akan minum tuak beraneka rasa sebagai bentuk syukur dan sukacita setelah memenangkan perang. Pesta ini dilakukan selama berhari-hari.  Mereka hanya akan berpesta di tanah yang tidak beraturan itu.

Namun, bentuk tanah yang terlihat aneh ini ternyata membentuk buaya. Saking besar ukurannya, kami sempat tidak menyadari bahwa tanah ini berbentuk menyerupai buaya. Namun, jika diperhatikan, kepala buaya dibuat menghadap ke sungai atau sumber air. Lokasi itulah yang kemudian disebut dengan Situs Buaya Tanah.

Situs Buaya Tanah kedua yang kami datangi malah lebih besar. Luasnya kira-kira lima hingga enam meter. Dibandingkan dengan lokasi sebelumnya, wujud buaya tidak terlalu terlihat. Mungkin karena banyaknya dedaunan yang menutupi lekuk tanah.  Di atas Situs Biaya Tanah terdapat barang pohon yang besar. Bahkan batang pohon ini menyerupai betuk buaya!

Sama seperti Situs Buaya Tanah sebelumnya, kepala buaya menghadap ke air. Pak Melud menjelaskan kepala buaya memang selalu dibuat mengarah ke sungai atau air. Jika tidak, maka sesuatu yang buruk akan terjadi.

Buaya merupakan sebuah simbol keberanian bagi Suku Dayak Lundayeh. Buaya diketahui mampu hidup di dua alam. Inilah yang membuat masyarakat Suku Dayak Lundayeh menganggap buaya adalah hewan yang istimewa. Buaya dianggap sebagai hewan yang tenang. Tidak ada hewan bercakar atau bertaring yang bisa menembus sisiknya. Oleh karena itu, buaya dipilih untuk melambangkan kekuatan yang sangat hebat.

Menurut Pak Melud, orang Suku Dayak Lundayeh yang hidup di Dataran Tinggi Krayan tidak pernah melihat sosok buaya.  Anehnya, mereka tetap bisa membentuk tanah ini dengan akurasi tinggi seperti buaya yang sebenarnya.