Prasasti, Peninggalan Bertulis Masa Lalu yang Kian Terkikis Zaman

Beberapa media tulis dalam prasasti seperti beberapa jenis bongkahan batu alam, lempengan logam berlapis emas, perak maupun perunggu dan tembaga, batu bata dan batang kayu keras. Selain jenis andesit, batu yang sering digunakan untuk menggoreskan aksara kuna yaitu batu kapur, pualam, dan basalt.

Sering disebutkan pada buku sejarah zaman kita sekolah, yaitu prasasti. Ketika sedang membicarakan masa-masa tertua sejarah menulis di negeri ini. Berbeda dengan naskah kuna atau manuskrip, prasasti yang bisa berbentuk dokumen atau piagam yang menuliskan aksara-aksara kuna pada bahan media tulis yang keras dan tahan lama.

Beberapa media tulis dalam prasasti seperti beberapa jenis bongkahan batu alam, lempengan logam berlapis emas, perak maupun perunggu dan tembaga, batu bata dan batang kayu keras. Selain jenis andesit, batu yang sering digunakan untuk menggoreskan aksara kuna yaitu batu kapur, pualam, dan basalt. Keberadaan prasasti sering dianggap peneliti masa lalu sebagai pertanda berakhirnya zaman prasejarah, ketika nenek moyang belum mengenal tulisan hingga mengenal tradisi menulis.

Isi kandungan dari goresan aksara kuna yang tertulis pada prasasti dianggap sumber yang penting bagi para peneliti masa lalu yang ingin mengungkap sebuah peristiwa yang dilengkapi dengan susunan kronologisnya. Biasanya, penulisan pada prasasti berisi penanggalan, nama orang, nama tempat, dan menyebut notes kegiatan utama yang “sedang berlangsung” sehingga menuliskan sebuah prasasti dirasa begitu penting untuk dilakukan demi memberikan sebuah berita peristiwa yang tengah atau sudah terjadi.

Ada juga prasasti bertuliskan puji-pujian terhadap tokoh penguasa. Namun, sebagian besar juga diketahui berisi keputusan tentang menetapkan sebuah wilayah tanah menjadi daerah yang diberikan penguasa kepada masyarakat yang dianggap berjasa dan keberadaannya dilindungi oleh penguasa yang memberikan perintahnya, pun dilindungi oleh kekuasaan pemerintahannya.

Prasasti sering dianggap sebagai piagam, maklumat, surat keputusan, berita “paling aktual”, barisan undang-undang dan tulisan yang dianggap penting lainnya. Prasasti juga sering disebut oleh para peneliti masa lalu seperti arkeolog sebagai inskripsi.  Sementara di kalangan umum, prasasti sering disebut sebagai batu tulis atau batu bertulis atau batu bersurat.

Keberadaan prasasti dianggap penting dan krusial ketika ingin menentukan cerita sejarah. Namun, keberadaan prasasti kian terkikis hingga bentuk aksara kuna tergores. Prasasti mudah rusak jika terpapar langsung sinar matahari, benturan titik air hujan dan kegiatan manusia. 

Pengertian prasasti di masa sekarang disebutkan kepada batu nisan atau batu yang bertanda-tangan saat peresmian sebuah gedung atau sebuah tempat. Meski istilah prasasti masih digunakan hingga masa sekarang, namun keberadaan prasasti yang bertuliskan peristiwa di masa lalu kian terkikis akibat semakin sedikitnya peneliti yang begulat di dalamnya.

Beberapa prasasti yang “baru” ditemukan oleh masyarakat awam masih sering terkendala persoalan administrasi, masalah pelaporan, ketidaktahuan prosesi penemuan hingga ke penelitian lebih lanjut. Masih ada beberapa prasasti yang belum diteliti karena terhambat oleh masalah administrasi maupun pencurian atau penjualan secara sembunyi-sembunyi sehingga menghilangkan penyusunan puzzle-puzzle yang sedang dilakukan para peneliti masa lalu untuk menguak misteri di masa lampau.

Foto: Dokumentasi Sinta Ridwan (Koleksi Munas - D 82, Koleksi Mudan D 178, Koleksi Munas - No Code)