Perjalanan ke Air Terjun Semolon, Perjuangan yang Terbayarkan

Keindahan Air Terjun Semolon tak akan mudah saya lupakan. Airnya sejuk dan pemandangannya indah. Meski harus menempuh perjalanan yang berat dan panjang, semua itu sungguh sepadan dengan apa yang akan Sobat Pesona lihat.

Air terjun Semolon berada di kabupaten Malinau provinsi Kalimantan Utara. Menuju Malinau dari Jakarta bisa melalui kota Palu, Tarakan atau Balikpapan, lalu dilanjutkan dengan pesawat ATR menuju bandara Robert Atty Bessing di Malinau. Jarak bandara ke kota Malinau tidak jauh, hanya 2 km saja. Pilihan lain menuju Malinau bisa juga dengan kapal speed boat atau biasa disebut kapal ferry cepat dari  dermaga pelabuhan Tengkayu kota Tarakan dengan jadual keberangkatan setiap jam mulai 07.30 hingga pukul 14.00.  Lama perjalanan kurang lebih 3 jam. 

Oiya, buat Sobat Pesona yang melakukan pejalan mandiri (solo traveler), jangan khawatir. Malinau aman dan penduduknyapun ramah, loh. Setelah negosiasi harga rental ojek untuk pergi dan kembali, saya melanjutkan sarapan Coto Makassar di depan losmen tempat saya bermalam.  Tak lupa persiapan bekal air minum dan makanan kecil seadanya selama perjalanan karena masih minim tempat berjualan makanan di area perjalanan.

 

Jalanan mulus beraspal dimulai dari kota Malinau menuju air terjun Semolon. Di sisi kanan, saya melihat Sungai Malinau yang airnya jernih.  Rasanya ingin sekali berhenti sejenak dan merasakan sejuknya air sungai. Namun saya urungkan niat itu karena air di Semolon akan jauh lebih sejuk daripada air di sungai ini.  Setelah 45 menit perjalanan ditempuh, akhirnya saya menemukan pertigaan.  Nah, apabila kita belok ke kanan kita akan menuju air terjun Semolon.

Saya bertemu dengan patung buaya besar berukuran kurang lebih 25 meter.  Buaya (Ulung Buaye) menjadi lambang sakral bagi suku dayak Lun Dayeh.  Buaya tak hanya sebagai lambang kesatria seorang Dayak karena badannya yang besar dan kuat, tapi juga diyakini bahwa roh buaya putih yang kerap ditemukan disekitar Malinau menjadi sinyal alam terhadap kondisi baik atau buruk bagi suku Dayak Lundayeh.

Sebagian jalanan saat saya kesini masih berupa tanah merah. Keseruan bersepeda motor memacu adrenalin.  Empat puluh empat kilometer dari kota Malinau, membelah hutan tropis, merasakan basah embun di dedaunan hutan lebat, memberi oksigen baru bagi saya.  Aroma air terasa semakin mendekat, Akhirnya saya tiba di kawasan air terjun Semolon. 

Jembatan merah! Ya. Mata saya tertuju pada sebuah jembatan gantung berwarna merah, seketika mengingatkan saya pada jembatan gantung di kebun raya Bogor. Di bawahnya mengalir deras sungai Malinau. Kesejukan alam begitu terasa.  Perlahan saya berjalan melintasi jembatan merah, terkadang berhenti sejenak memotret keindahannya. 

Di ujung sana saya melihat air mengalir berundak-undak, serasah basah saya tapaki, sesekali tergelincir di bebatuan berlumut.  Air mengalir dari satu teras ke teras lain, bak pola teras sering sawah di Bali.  Airnya bersih, bening mengundang untuk bermain di kolamnya.  Uniknya lagi sumber mata airnya ada yang hangat dan dingin, hingga tempat ini dijadikan tempat berobat bagi pengunjung.