Kuliner Jailolo, Cita Rasa Unik yang Tak Terlupakan

Saya mulai petualangan dengan makan siang di Lako Akelamo. Hidangan yang paling menarik perhatian adalah Gohu Tuna dan Sambal Tai Minyak.

Beberapa tahun lalu, tak sengaja saya menemukan foto-foto dari Jailolo di Instagram. Langsung muncul keinginan untuk memasukkan ibu kota Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara ini menjadi salah satu destinasi wajib dikunjungi. Kalau dari beberapa gambar jepretan saja saya dibuatnya terpesona, bayangkan bagaimana kalau melihat dengan mata kepala sendiri Maka, ketika ACMI (Aku Cinta Makanan Indonesia) – gerakan independen untuk melestarikan budaya kuliner tradisional Indonesia – memasukkan Jailolo sebagai destinasi program Culinary Trip, saya langsung menyambutnya dengan girang.

Dari Jakarta, kami naik pesawat ke Ternate. Kemudian, kami menghabiskan sekitar 20 menit naik speed boat ke Jailolo. Tampak bekas panggung besar menjorok ke arah laut, tak jauh dari tempat speed boat kami berlabuh. Rupanya, itulah panggung yang digunakan pada saat Festival Teluk Jailolo berlangsung.

Saya mulai petualangan dengan makan siang di Lako Akelamo. Hidangan yang paling menarik perhatian adalah Gohu Tuna dan Sambal Tai Minyak. Gohu Tuna khas Jailolo ini dibuat dari potongan ikan tuna segar yang dimatangkan dengan acidity dari lemon cui, kemudian ditambahkan bumbu berupa bawang merah, rawit merah, kemiri serta minyak kelapa. Rasanya gurih pedas dengan masam tipis. Diduga, santapan ini merupakan pengaruh dari Spanyol, karena prosesnya yang serupa dengan ceviche.

Lantas, Sambal Tai Minyak sendiri dibuat dari ampas minyak kelapa. Cita rasanya gurih dengan harum khas kelapa tua. Sambal ini tidak terlalu pedas dan menjadi pendamping yang cocok untuk sumber karbohidrat mereka yang umumnya berupa pisang serta ubi rebus. Sedangkan sumber protein mereka umumnya datang dari laut. Ya! Sebab ikannya segar semua di sana. Sementara, untuk sayur, saya hampir selalu mendapati Sayur Garo yang terdiri dari bunga pepaya, kangkung dan pakis di berbagai kesempatan makan.

Kami juga berkesempatan menghadiri Orom Sasadu, upacara adat untuk mensyukuri berkah panen di Desa Toboso. Di sana, para perempuan akan duduk dengan perempuan lainnya, begitu juga halnya dengan kaum laki-laki. Kami disuguhi ikan bakar dabu-dabu, ikan kuah kuning, kerang sungai yang dibumbui bak kare, ikan kecil goreng berbumbu sambal merah, serta nasi kembar. Nasi kembar ini mirip lontong, namun dimatangkan di dalam bambu. Seorang Ibu yang duduk di seberang saya tak berhenti menuangkan lauk ke piring saya. “Ayo makan!”, ujarnya. “Nanti setelah ini kita berdansa!”.

Nah, kalau Sobat Pesona punya rencana berkunjung ke Jailolo, agendakan untuk menetap sedikit lebih lama. Selain berbagai tradisi budaya yang masih kental, kuliner di Jailolo juga menarik untuk dicoba. Jangan lupa juga untuk mengeksplorasi berbagai area pantai atau bahkan wisata mangrove-nya. Masukkan ke daftar tujuanmu sekarang, yah!