Kampung Kapitan, Rumah Sang Kapten yang Melegenda

Kampung Kapiten terletak di tepi Sungai Musi, tepat di sisi barat Jembatan Ampera. Untuk tiba di sana, Sobat Pesona bisa menyeberang dengan ketek (perahu kayu) dari dermaga Ilir atau langsung turun dari jembatan Ampera.

Kampung Kampung Kapitan adalah sebuah kawasan yang terdiri dari 15  bangunan rumah panggung milik etnis Tionghoa pada masa kolonial Belanda. Nama Kampung Kapitan diilhami dari kisah seorang pemimpin masyarakat Tiongkok Palembang Tjoa Kie Tjuan. Saat itu, Tjoa kie Tjuan memimpin sejak 1830-1855 dan berpangkat mayor. Kekuasaannya diteruskan oleh sang putra bernama Tjoa Han Him dengan pangkat kapten atau kapitan.

 

Kapitan adalah sebutan bagi petinggi daerah di jaman kerajaan dahulu kala. Tugasnya mengurus kepentingan rakyat, tentang pajak, pernikahan, perjanjian dan lainnya. Pada masa kepemimpinan Tjoa Han Him, wilayah 7 Ulu semakin berkembang dan menjadi sentral perdagangan di bawah pemerintahan Belanda. Warga kemudian menyebut daerah itu sebagai Kampung Kapitan untuk menghormati jasa Sang Kapten.

Kampung Kapiten terletak di tepi Sungai Musi, tepat di sisi barat Jembatan Ampera. Untuk tiba di sana, Sobat Pesona bisa menyeberang dengan ketek (perahu kayu) dari dermaga atau langsung turun dari jembatan Ampera. Apabila bingung, tinggal tanya saja ya ke warga setempat karena Kampung Kapitan adalah daerah pecinan sudah sangat familiar sebagai objek wisata sejarah di kota Palembang.

Berjalan di tepian sungai Musi lalu belok kiri melalui jalan setapak. Dari situ, hanya sekitar 200 meter, Sobat Pesona menemukan Rumah Kapitan, rumah Beton berwarna putih yang di sebelahnya ada rumah Kayu.

 

Kedua rumah ini bisa dibilang masih cukup terawat. Kini, rumah tersebut masih dihuni oleh Mulyadi, keturunan 14 dari Kapitan. Beliaulah yang selama ini bertahan dan melestarikan budaya dan sejarah Kapitan. Untaian cerita akan mengalir dari perbincangan hangat dengannya. 

Ada ukiran matahari di atas pintu sebagai lambang "melihat luas dan berwawasan luas". Bentuk ujung atap dibuat runcing yang menyimbolkan alis sebagai "pelindung mata dalam melihat masa ke masa depan".

 

Sobat Pesona juga juga melihat kamar Pangeran Tan bu An saat bertunangan dengan Putri Siti Fatimah. Ada ruang sembahyang serta meja dan kursi tempat Kapitan biasa minum teh. Sobat Pesona akan terkagum-kagum dengan benda-benda sejarah yang masih tersimpan dengan baik. Ada satu benda unik yaitu foto 3 dimensi Kapitan yang seolah bisa mengikuti pandangan mata kita bergerak ke kiri atau ke kanan.

Jika Sobat Pesona berkesempatan datang ke Palembang, tak ada salahnya jika datang ke Kampung Kapitan. Banyak cerita yang bisa Sobat Pesona pelajari untuk menambah wawasan tentang asal-usul keberadaan warga Tiongkok di Kota Pempek ini.