Garam Gunung Krayan Kesukaan Sultan Brunei Darussalam

Keunikan Dataran Tinggi Krayan tidak hanya terbatas pada lanskap yang cantik saja, tetapi juga kandungan tanahnya yang ternyata sangat unik.

Kami berkunjung ke Desa Long Midang, Kalimantan Utara. Tujuan kami adalah sebuah rumah yang memiliki sebuah sumur kecil. Apa istimewanya? Pak Alex, pemandu kami, menyarankan untuk mencicipi air dari sebuah sumur kecil tepat di depan pintu belakang rumah ini. Rasanya asin! Aneh sekali.  Sebuah sumur di perbukitan malah memiliki rasa asi layaknya air laut, bukan air tawar sejuk khas pegunungan.

Di dalam rumah, kami melihat sebuah kompor yang sangat besar. Di atasnya ada drum sebagai kualinya yang sedang mengeluarkan asap yang cukup tebal. Air di dalamnya mendidih dan terus bergolak. Ternyata, inilah produksi garam gunung khas Dataran Tinggi Krayan. Prosesnya terbilang cukup sederhana, hanya dengan merebus air sumur hingga garam terpisah dari air. Kemudian garam dijemur dan siap untuk digunakan atau dijual.

Dikelola Warga Desa
Dalam satu hari, rumah produksi bisa menghasilkan 23-25 kilogram garam. Jika Sobat pesona membeli langsung dari rumah produksi ini, harganya 50 ribu rupiah. Usaha produksi garam gunung ini bukanlah milik perseroan. Warga desa secara bergantian akan mengelola proses produksi selama dua minggu. Lalu setelahnya akan digantikan oleh keluarga lain. Begitu seterusnya.

Warga desa menggunakan kayu belaban yang hanya tumbuh di Krayan. Kayu belaban dipilih karena bisa membakar cukup lama sehingga ideal untuk proses pembuatan garam. Namun, karena populasi pohon ini mulai menurun dan sulit didapat, ongkos produksi jadi membengkak. Saat ini, harga garam gunung mencapai 400 ribu rupiah per bak mobil Double Cabin.

Garam gunung sudah menjadi barang berharga yang sangat laku dijual, khususnya di Brunei Darussalam. Nilainya bahkan mencapai 400 ribu rupiah per kilo. Menurut warga setempat, Sultan Brunei Darussalam sangat menyukai garam gunung ini karena rasanya yang lezat.

Asal Mula Garam Gunung
Seorang pemburu berhasil mendapatkan burung Punai buruannya. Dia kemudian membersihkan daging burung tersebut di sebuah mata air. Setelah dimasak, daging burung ini sangat enak. Berbeda dengan daging burung Punai yang pernah ia buru di tempat lain.

Sang pemburu lalu menjadikan tempat itu menjadi lahan perburuan favoritnya. Hingga suatu saat, dia mencoba meminum air yang ternyata terasa asin. Itulah sumber air yang menyimpan kandungan garam dan dimanfaatkan oleh warga hingga sekarang.