Bekantan di Tarakan, Monyet Belanda yang Pemalu

Primata berhidung besar ini menjadi ikon kota Tarakan. Bisanya mereka tinggal dengan berkelompok dan selalu berada di atas pohon.

Bekantan (Nasalis Larvatus) merupakan salah satu spesies primata yang hanya ada di Indonesia. Sobat Pesona bisa menemukan habitat bekantan di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB)  di Tarakan, Kalimantan Utara. Bekantan bebas berkeliaran di pulau ini di dalam lebatnya hutan bakau.

Hutan bakau ini menjadi habitat terbaik untuk bekantan hidup. Pohon bakau yang lebat jadi tempat terbaik bekantan karena hampir sebagian waktunya dihabiskan di atas pohon. Makanan kesukaan bekantan adalah biji-bijian, buah-buahan, dan aneka daun yang banyak menghasilkan gas saat dicerna. Konon, inilah yang menyebabkan perut bekantan jadi buncit.

Di dalam KKMB, Sobat Pesona akan melihat  area hutan bakau yang sangat sejuk dan asri.  Untuk dapat menelusuri hutan bakau seluas 22 hektare ini, Sobat Pesona bisa melewati jalan setapak yang terbuat dari kayu ulin yang kuat dan tahan lapuk.  Jenis pohon rawa yang tumbuh di area konservasi ini ada beberapa jenis, seperti pohon api-api, pidada dan kandeka.

Untuk dapat menemukan bekantan, Sobat Pesona harus menunggu suara teriakannya yang khas. Temukan dari sisi mana sumber suara itu berasal. Sobat Pesona harus berjalan agak pelan dan jangan gaduh karena monyet berkulit coklat keemasan ini sangatlah pemalu.

Ciri yang membedakan bekantan dengan monyet lain adalah hidungnya yang besar. Meski begitu, tidak ada yang tahu kenapa hidung bekantan bisa sebesar itu. Tak diketahui juga fungsi hidung besar bekantan, tapi banyak ahli menyebut hal itu disebabkan karena seleksi alam. Masyarakat sekitar memanggil bekatan dengan sebutan “monyet Belanda”. Nama tersebut terinspirasi dari bentuk hidung bekatan yang panjang dan besar. Mirip hidung orang Belanda. 

Terdapat sekitar 40 ekor bekantan di KKMB.  Jumlah itu sebenarnya masih terlalu sedikit untuk area seluas itu.  Jika Sobat Pesona ingin melihat bekantan dari jarak dekat, datanglah saat penjaga memberikan makanan. Waktu makan bekantan ada dua, yaitu saat pagi dan sore pukul 09.00 dan 15.00.  Di luar waktu itu, para bekantan akan kembali berkelompok sesuai grupnya masing-masing.

Ada dua kelompok besar bekantan di paru-paru kota Tarakan ini.  Kelompok ini berdasarkan induk pejantan dominan yang berpengaruh.  Dua pejantan tangguh itu diberi nama John dan Michael.  Petugas akan memberitahu kepada pengunjung tentang keberadaan kelompok John dan Michael.

Di dalam area hutan kecil ini juga dibangun beberapa saung dan tempat duduk kayu untuk beristirahat.  Selain bekantan, Sobat Pesona juga akan menemukan beberapa spesies burung, tupai , kepiting, kadal, biawak serta ikan timpakul di KKMB.  Saat air laut sedang pasang, Sobat Pesona bisa menemukan aneka biota laut seperti ikan dan ular laut karena air lautnya begitu bening.