Melihat Keindahan Bromo dari Bukit Trianggulasi

Bukit Trianggulasi secara lengkap menawarkan tiga pesona di dalamnya. Pertama, kemolekan alam dan historisnya, kehangatan tradisi penduduknya, dan sensasi irama adrenalin yang berbeda.

Gunung Bromo yang masuk dalam Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TNBTS) dan membentang di empat Kabupaten di Jawa Timur ini banyak menyimpan keajaiban panorama alam.

Banyak cara untuk menikmati Gunung Bromo. Salah satunya, mencoba sensasi wisata Bukit Trianggulasi Bromo. Dari sini, kita bisa menyaksikan Bromo dari atas ketinggian. Bukit Trianggulasi Berada di Dusun Pusung Malang, Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura tepatnya dipuncak Gunung Ringgit.

Panorama keindahan alam yang ditawarkan terbilang masih “perawan” ini pun tak bisa dianggap biasa. Kita bisa menyaksikan gugusan perbukitan yang masuk dalam wilayah Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TNBTS). Dari ketinggian sekitar 2.500 mdpl.

Lebih istimewa lagi, kita juga bisa melihat Gunung Bromo di Probolinggo, Bukit B-29 di Lumajang, dan masih banyak lagi dari atas bukit ini. Hanya saja, butuh tenaga ekstra untuk menyaksikan Bromo dari atas bukit Trianggulasi ini.

Untuk sampai ke puncak bukit Trianggulasi, biasanya dibutuhkan waktu dua hari, dan dimulai dari Sukapura menggunakan mobil jip atau Toyota FJ 40 hardtop yang sudah banyak disediakan oleh pelaku wisata di kawasan Bromo.

Suhu di atas bukit Trianggulasi luar biasa sekali, jika cuaca sedang tidak bersahabat, suhu bisa mencapai 10 derajat celcius, loh! Bahkan bisa sampai minus derajat celcius. Tapi, itu terjadi musiman, tidak selalu terjadi. Walau begitu kita tetap harus mempersiapkan pakaian tebal, ya!

Belum ada jalur khusus untuk bisa mencapai puncak ini. Satu-satunya jalur menuju dusun Pusung Malang, yakni melalui jalan desa menembus kawasan hutan lindung milik Perhutani. Bagi yang menyukai petualangan liar, tentu sangat meminati perjalanan ini.

Kurang lebih dua jam, kita akan sampai di desa terakhir. Setelah itu, kita masih harus berjalan kaki sekitar kurang lebih 5 kilometer melewati satu-satunya jalur, melalui perkebunan lokal milik warga.

Setelah tiba di pemukiman terakhir, kita bisa singgah dan istirahat sejenak di rumah-rumah penduduk Pusung Malang. Dalam waktu istirahat ini, kita bisa merasakan langsung keramahan tegur sapa dan hangatnya suasana dapur khas Tengger. Pengalaman ini akan melengkapi cerita seru perjalanan wisata anti-mainstream ini.

Warga Tengger menyebutnya tradisi “kepawon”. Tradisi turun temurun para nenek moyang mereka ini dilakukan untuk menyambut dan menerima tamu. Uniknya, mereka menyambut tamu bukan di ruang tamu, melainkan di dapur dengan api tumang yang dibiarkan tetap menyala sebagai penghangat.

Keesokannya, kita bisa mulai menyapa puncak Trianggulasi. Pemandangan taburan lampu spektakuler kota Probolinggo dan wilayah sekitarnya, terhampar berkilauan bak lautan intan berlian. Jika langit sedang cerah, kerlip gugusan bintang seakan berpadu dengan hamparan lampu kota ini.

Bagi penggemar fotografi landscape tentunya momen langka seperti ini dapat diabadikan dengan teknik slowspeed atau long eksposure pada kamera. Langit cerah yang terbebas dari polusi udara akan memberikan warna-warni yang indah pada foto yang dihasilkan.

Dari arah Utara tampak Kota Probolinggo yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa, dari timur deretan pegunungan yang yang luas, sedangkan dari selatan Mahameru yang gagah dan Gunung Bromo berdampingan dengan gunung batok lengkap dengan kepulan asap vulkaniknya yang eksotik.

Bukit Trianggulasi secara lengkap menawarkan tiga pesona di dalamnya. Pertama, kemolekan alam dan historisnya, kehangatan tradisi penduduknya, dan sensasi irama adrenalin yang berbeda dari objek wisata manapun, khususnya di kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TNBTS).

Foto: Galih Lintartika