Belajar Tentang Pertambangan di Museum Ombilin

Sawahlunto, Sumatera Barat memang telah lama dikenal sebagai salah satu kota penghasil batu bara yang bersejarah di Nusantara. Salah satu pertambangan batubara yang pernah eksis, Ombilin. Setelah tak berfungsi, sekarang dijadikan museum.

Salah satu wilayah yang dulu dikenal sebagai lokasi pertambangan adalah Sawahlunto, Sumatera Barat. Kota kecil di timur Kota Padang itu dulunya dimanfaatkan sebagai tambang oleh pemerintah Belanda sejak tahun 1867. Kekayaan batu bara yang ada di perut bumi Sawahlunto kini tak lagi dieksploitasi dan menyisakan bekas pertambangan, seperti Lubang Mbah Suro dan Museum Tambang Batubara Ombilin.

Museum Tambang Batubara Ombilin yang berada di kawasan Sungai Durian, Kecamatan Barangin itu sendiri baru diresmikan pada 14 Juni 2014. Di sini, kita bisa menjajal pengalaman baru berwisata sejarah tambang. Begitu melewati pintu pagar museum, kita akan menemui terowongan berbentuk setengah lingkaran yang dibuat dari jalinan batang kayu. Ternyata ini adalah replika terowongan tambang batu bara di perut bumi.

Bangunan museum yang berwarna putih ini pun nyatanya juga menyimpan banyak sejarah. Pasalnya, tempat ini juga pernah menjadi rumah peristirahatan Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, lho.

Memasuki museum, kita akan melihat beragam koleksi terkait penambangan batu bara yang disimpan rapi. Aneka barang-barang ini merupakan rekam jejak aktivitas pertambangan dari masa kolonial Belanda. Ada peralatan tambang, arsip dan dokumen penambangan, kostum yang dikenakan para penambang, kendaran pengangkut batubara, foto-foto lawas, berbagai alat kerja, hingga mesin pemilah batu bara.

Selain itu ada pula lampu indikator gas metana yang merupakan alat penting pencegah terjadinya keracunan dan kematian masal karena penyebaran gas.


Mencoba Jadi Penambang
Ada satu ruangan menarik yang dinamai ruangan tambang dalam atau tertutup. Ruangan ini bentuknya memanjang dengan atap seperti terowongan yang dilapisi kayu, dan dihiasi berbagai peralatan pertambangan seperti lampu penerangan, radio komunikasi, seragam pekerja, hingga alat detektor gas.

Di sinilah kita bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi pekerja tambang. Pasalnya, kita dibuat seolah-olah tengah berada jauh di dalam perut bumi dan bertugas untuk menambang batu bara.

Ada juga ruang tambang terbuka yang menunjukkan cara penambangan di atas permukaan bumi. Di sana pun dipajang timbunan batu bara yang ternyata terbagi menjadi tiga, yang dilihat dari kualitasnya, yakni antrasit merupakan kelas premium, sub bituminous kelas menengah, dan lignit yang berkualitas paling rendah.