Mengenal Candi Mendut, Lebih Tua dari Candi Borobudur

Candi Mendut berbentuk persegi dengan tinggi keseluruhan mencapai 26,4 meter. Bagian tubuh candi berdiri di atas batu dengan tinggi 2 meter. Terdapat kurang lebih 31 panel yang menampilkan relief berbentuk makhluk-makhluk kahyangan.

Mengeksplorasi wilayah di Jawa Tengah akan terasa kurang lengkap tanpa melihat situs budaya yang ada di sana. Salah satu yang bisa menjadi pilihan adalah Candi Mendut yang berada di Kota Mungkid, Kabupaten Magelang. Candi bercorak Buddha ini hanya berjarak 3 kilometer dari Borobudur. Jika dilihat dari atas atau peta, Sobat Pesona akan menyadari bahwa Candi Mendut, Candi Borobudur dan Candi Pawon berada dalam satu garis lurus, dari utara ke selatan.

Nama candi ini berasal dari kata "venu, vana, Mandira" yang memiliki arti "candi yang berada di tengah hutan bambu". J.G de Casparis, ahli sejarah, menjelaskan bahwa Candi Mendut dibangun pada masa Kerajaan Syailendra pada 824 M. Dijelaskan pula pada Prasasti Kartanegara bahwa Candi Mendut dibangun sebelum Candi Borobudur.

Seperti candi Buddha pada umumnya, Candi Mendut berbentuk persegi dengan tinggi keseluruhan mencapai 26,4 meter. Bagian tubuh candi berdiri di atas batu dengan tinggi 2 meter. Terdapat kurang lebih 31 panel yang menampilkan relief berbentuk makhluk-makhluk kahyangan seperti dewata gandarwa dan apsara atau bidadari, dua ekor kera dan seekor garuda. Pada kedua tepi tangga terdapat relief yang bercerita tentang Pancatantra dan Jataka.

Dinding candi juga dipenuhi degan relief Boddhisattva. Di bagian dalam candi induk terdapat arca Buddha yang berukuran besar. Jumlahnya ada tiga buah. Arca pertama adalah Bodhisattva Vajravani dengan posisi mudra, Budha Sakyamuni dengan posisi duduk bersila dan tangan memutar roda dharma dan Bodhisattva Avalokitesvara yang memegang bunga teratai di atas tanganya.

Di halaman candi, ada pohon Bodhi besar tumbuh dengan gagahnya. Umat Buddha meyakini pohon tersebut merupakan tempat Siddharta Gautama mencapai penerangan sempurna.

Candi Mendut pertama kali ditemukan pada 1836 oleh pemerintah Hinda Belanda. Saat itu, kondisi candi terkubur di bawah tanah dan atapnya tidak ada. Selanjutnya dilakukan pemugaran pada 1897 hingga 1904. Proses ini termasuk rekonstruksi seluruh bangunan, termasuk atap yang hilang. Rekonstruksi kedua selesai pada 1925 dengan meliputi penyempurnaan candi dan memasang kembali stupa-stupa kecil.

Meski ukurannya tidak semegah Candi Borobudur, kehadiran Candi Mendut amat penting bagi umat Buddha, terutama saat perayaan Waisak. Rangkaian upacara Waisak selalu dimulai dari Candi Mendut saat purnama.

Air suci merupakan salah satu yang terpenting dalam perayaan Waisak. Penggunaan air dalam upacara Waisak sebagai lambang untuk mengalirkan kebaikan. Air ini diambil dari sumber mata air murni di Temanggung lalu disimpan di Candi Mendut. Setidaknya ada 10.000 botol dan 70 kendi di sana. Obor waisak yang diambil dari Gunung Mrapen juga disimpan terlebih dulu di sana sebelum dibawa ke Candi Borobudur.

Para biksu dan jamaah Buddha akan berkumpul di Candi Mendut, lalu akan berjalan bersama-sama ke Candi Borobudur. Tak hanya dijadikan tempat ibadah, Candi Mendut juga dijadikan tempat berkumpul dan belajar para biksu karena banyaknya vihara di sana.