Menengok Pembuatan Garam Tradisional di Madura

Semua kabupaten di Pulau Madura, seperti Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep memiliki tambak garam yang luas. Selain itu, daerah-daerah ini juga sangat produktif karena petani dapat menghasilkan garam dalam jumlah besar.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia dikelilingi laut dengan potensi garam yang melimpah. Salah satu yang paling besar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara, adalah lahan garam yang ada di Madura, Jawa Timur. Tak tanggung-tanggung, luas lahan garam di Madura mencapai 15.000 hektare.

Tak salah rasanya bila Madura disebut sebagai Pulau Garam. Semua kabupaten di Pulau Madura, seperti Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep memiliki tambak garam yang luas. Selain itu, daerah-daerah ini juga produktif karena dapat menghasilkan garam dalam jumlah besar.

Wilayah Madura bagian selatan dijadikan lahan yang baik untuk memproduksi garam. Ketenaran lahan garam di Madura ternyata sudah ada sejak zaman VOC dengan sebutan zoutnegorizen atau zoutlanden.

Dalam sejarahnya, proses kristalisasi air laut menjadi garam sudah ada sejak abad ke-15. Ide ini berasal dai orang-orang Gir Papas (Pinggir Papas) yang tinggal di antara Sumenep dan Kalianget. Anggosuto, salah satu pemimpin Gir Papas, berinisiatif mengubah air laut menjadi garam dengan bantuan panas matahari.

Anggosuto hanya menggunakan alat-alat sederhana. Ia menggunakan canteng (sematam gayung), rabunan (kukusan nasi untuk menyaring air) dan pakem (sendok dari kayu untuk mengumpulkan garam). Tak disangka, metode ini bisa menghasilkan butiran garam yang layak konsumsi.

Namun, Anggosuto menyadari bahwa peralatan tersebut kurang memadai untuk memproduksi garam dengan waktu yang lebih efektif. Lalu, Anggosuto membuat serangkaian alat agar proses pembuatan garam lebih banyak dan cepat.

Dalam sekali pembuatan, petani garam membutuhkan waktu sekitar 25-28 hari. Itu hanya untuk menguapkan air laut di tambak dan membiarkan proses kristalisasi terjadi secara alami. Proses ini paling baik dilakukan pada April saat matahari sedang panas-panasnya.

Butiran garam di tambak belum benar-benar kering. Oleh karena itu, haram dijemur lagi di bawah matahari langsung dan diangin-anginkan selama 4 hingga 10 hari.

Proses pembuatan garam di Pulau Madura sering disebut "Madurese" atau cara orang Madura. Madurese dikenal dengan proses pengkristalan air laut secara total. Garam diambil mulai dari lapisan terbawah hingga atas. Para petani secara tradisional memindahkan air laut setahap demi setahap.

Produksi garam di Madura ternyata juga didukung oleh letak geografis Pulau Madura. Musim kemarau di sana lebih panjang, sekitar 4 hingga 5 bulan. Ditambah bulan kering yang bisa berlangsung selama 2 hingga 4 bulan. Kondisi ini sangat cocok untuk proses pengkristalan yang membutuhkan panas matahari dan angin dari pantai.

Sekitar 1/4 produksi garam Indonesia berasal dari Madura, yaitu 768 ribu dari 2,91 juta ton. Hal ini membuat Pulau Madura sangat diandalkan dalam hal produksi garam di Indonesia. Indonesia sangat beruntung dikaruniai kekayaan alam yang melimpah, ya!