Komidi Putar, Hiburan Murah Meriah dari Ramadan Hingga Lebaran

Komidi putar memang menghibur dengan segala kesederhanaannya. Ini adalah permainan lama dan klasik. Di Kota Bandung, atraksi semacam ini kerap hadir di sejumlah tempat sejak tempo dulu.

Di Indonesia, komidi putar juga banyak yang menyebutnya dengan nama korsel. Atraksi ini sangat dikenal di seluruh dunia, bisa ditemukan di taman bermain modern di kota-kota besar atau pasar malam di tanah lapang pelosok desa. Komidi putar berupa kuda-kudaan ini bisa dinaiki dan berputar mengikuti gerakan roda besar yang berputar pada sumbunya.

Komidi putar memang menghibur dengan segala kesederhanaannya. Ini adalah permainan lama dan klasik. Di Kota Bandung, atraksi semacam ini kerap hadir di sejumlah tempat sejak tempo dulu. Beruntung, warga Bandung masih bisa merasakan meriahnya komidi putar pada Ramadan tahun ini. Sedikitnya ada dua tempat, di bilangan Carrefour Kiaracondong dan Cikutra.

Suasana asyik dan riang gembira, penuh gelak tawa hingga teriakan histeris menghangatkan riuhnya permainan di lokasi itu. Selain komidi putar, ada juga wahana lain seperti kincir raksasa atau bianglala, kora-kora atau perahu ayun, ombak banyu, tong setan, kereta mini hingga odong-odong.

Susilo, salah satu pengelola wahana komidi putar, membangun area bermain di Cikutra. Tahun ini merupakan tahun kelima secara berturut-turut bagi Susilo dan rekan-rekannya mengais rezeki di lokasi tersebut. Ia membuka tempat bermain ini sejak awal Ramadan hingga Lebaran. Tak tanggung-tanggung, atraksi korsel berlangsung selama 40 hari. Harapannya, bisa beroleh hasil yang menggembirakan.

“Kami buka selama bulan puasa sampai setelah Lebaran karena suka banyak yang naik (wahana). Kan, yang ziarah ke makam juga bukan hanya orang Bandung. Ini yang juga kami andalkan,” tutur salah satu petugas bagian komidi putar.

Untuk naik satu wahana, sebetulnya pengunjung tak harus merogoh kocek dalam-dalam. Cukup menyiapkan Rp 10.000 sampai Rp 15.000 saja untuk sekali bermain dengan durasi antara 5 hingga 15 menit, tergantung wahana yang dipilih.

Diakui Susilo, pamor komidi putar mulai memudar. Namun, bersama rekannya ia bertekad untuk bertahan meski harus berpindah-pindah tempat ke luar kota sekalipun untuk sekadar menyambung hidup. Terpenting, upah yang diperoleh selalu disyukuri berapa pun besarnya.

“Upah yang didapat sih tergantung orangnya, bisa mencukupkan atau tidak. Kecuali orang boros pasti tak akan cukup. Harapannya sih pasti gede, yang penting untuk keluarga bisa cukup, Lebaran bisa beli baju baru untuk anak istri,” ujarnya.

Tak dipungkiri, wahana hiburan rakyat menengah ke bawah ini makin terjepit modernitas. Sulitnya mencari lahan, antusiasme warga yang mulai berkurang membuat hiburan ini nyaris gulung tikar ditelan zaman. 

Nah, kalau Sobat Pesona ingin bernostalgia dan merasakan serunya wahana permainan tempo dulu, tak ada salah datang ke lokasi tempat komidi putar di daerah Bandung. Bukan cuma untuk anak-anak, lho, wahana ini juga bisa dinikmati orang dewasa sesuai kapasitasnya. Selain murah, wahana yang disediakan juga cukup seru semabari menunggu azan Magrib berkumandang.