Apa Hebatnya Rumah Honai?

Jika dikaji dengan teori modern, rumah honai benar-benar tidak memenuhi standar kesehatan maupun arsitektur. Namun, ada makna lebih dalam yang terus dijaga.

Rumah Honai lekat dengan masyarakat Papua. Padahal, pada awalnya rumah honai adalah rumah adat di kalangan suku Dani. Secara fisik, rumah honai berbentuk agak mengerucut. Atapnya terbuat dari jerami atau rumput biasa.

Tingginya pun hanya berkisar 2,5 hingga 5 m, sangat pendek untuk ukuran rumah-rumah modern. Namun, bukan tanpa sebab Suku Dani membangun rumah yang relatif pendek.

Rumah khas perkotaan yang dibangun relatif lebih tinggi bertujuan untuk menangkap angin agar hawa di dalam rumah lebih sejuk. Maklum saja, cuaca di perkotaan cenderung lebih panas. Sedangkan tempat tinggal Suku Dani ada di lembah-lembah yang sudah sangat dingin. Maka itu, rumah honai dibangun lebih pendek agar udara dingin tidak mudah masuk.

Begitu juga dengan jendela. Rata-rata rumah honai cuma dibekali satu jendela kecil. Bahkan beberapa rumah tidak memiliki jendela. Gunanya sama, agar udara hangat terperangkap di dalam rumah.

Honai sendiri berasal dari dua kata, yaitu hun yang memiliki arti laki-laki dan ai yang artinya rumah. Sesuai dengan artinya, honai merupakan rumah khusus untuk pria dewasa. Satu rumah biasa dihuni hingga 10 pria.

Bagaimana dengan para wanitanya? Suku Dani mengenal rumah adat lain yang bernama ebe’ai, atau kadang disebut pula dengan rumah ebai. Tidak hanya menjadi tempat beristirahat para wanita dan anak-anak Suku Dani, rumah e’beai juga menjadi tempat untuk mendidik anak-anak perempuan Suku Dani, hingga menjadi tempat untuk berhubungan suami istri.

Kembali ke rumah honai. Rumah para pria ini hanya memiliki satu ruangan dengan dua lantai. Di tengah ruangan ada api unggun sebagai sumber panas di malam hari. Lantai bagian atas biasa digunakan untuk tidur para pria.

Di bagian bawah rumah honai, para pria Dani biasa menjadikannya tempat penyimpanan alat-alat perang, bahkan tempat mumi para leluhur Dani. Para pria dewasa juga biasa berkumpul di ruang ini.

Membangun rumah honai juga tak bisa sembarangan. Rumah biasanya dibangun di kala kemarau agar tidak terhambat oleh hujan maupun angin besar. Selain itu, pintu rumah harus menghadap arah matahari terbit atau terbenam.

Dalam kepercayaan lokal, penempatan pintu ini berfungsi agar para pria Dani bersiap jika musuh datang. Namun, jika dikaji dengan lebih ilmiah, penempatan pintu di Timur atau Barat ini bertujuan agar ruangan di dalam rumah mampu menangkap panasnya sang surya. Panas itu masuk ke dalam rumah untuk menghangatkan penghuni rumah honai di kala malam.