Menyusuri Keunikan Alam dan Budaya Sulawesi Selatan

Kali ini, aku menikmati perjalanan menuju Tana Toraja. Sebelum ke sana, aku mampir ke Makassar untuk mencicipi Pallubasa, melewati Ramang-ramang dan melihat makam batu khas Toraja.

Sulawesi Selatan memiliki kekayaan alam dan budaya yang patut untuk diapresiasi. Salah satunya tradisi mumi di Toraja. Tradisi mumi,  menyeramkan atau justru sangat menarik? Beberapa suku di Indonesia memang masih menjalankan tradisi mumi, mulai meletakkan jenazah di batu besar, maupun mendandani jenazah.

Salah satu yang paling terkenal adalah tradisi Suku Toraja di Sulawesi Selatan. Nah, berikut ini adalah pengalamanku saat menyambangi Toraja. Sebelum ke sana, yuk, mampir dulu di Makassar dan Rammang-rammang.

Kami mendarat di Makassar dan langsung mencicipi makanan di sana. Sop Pallubasa Serigala salah satunya. Pallubasa Serigala di Makassar jadi tempat makan wajib yang pasti aku kunjungi. Pallubasa memiliki beberapa opsi: daging, paru, otak, atau campur semua. Bumbu rempah yang sangat lezat dan khas dengan tambahan serundeng dan telur setengah matang untuk dicampurkan di kuah sungguh memancing liurku. Bahkan, ketika sedang menulis artikel ini.

Usai wisata kuliner dan melihat keindahan Kota Makassar, kami melanjutkan perjalanan menuju Rammang-rammang di Kabupaten Maros sekitar 40 km. Gugusan pegunungan kapur yang tidak kalah indah dengan yang ada di Vietnam atau Tiongkok sudah menanti. Ya, paling tidak untuk mengobati rasa penasaran. Ketika sampai di Rammang-rammang, perlu kapal kecil untuk melihat lebih banyak keindahan di dalam area ini. Harga sewa yang dipatok warga setempat tidak terlalu mahal.

Banyak spot bagus untuk dipotret. Benar kata orang, rasanya seperti berada di luar negeri. Alamnya sungguh indah dengan sungai dan pegunungan yang mengelilingi area tersebut. Menikmati itu semua sembari bersantai dapat ditemani minuman dan gorengan yang dijual di beberapa rumah warga.

Kami melanjutkan perjalanan ke Tana Toraja. Perjalanan ditempuh sekitar 11 jam dengan jalur darat. Sesampainya di Tana Toraja, aku melihat banyak sekali rumah adat Tongkonan. Masih banyak warga yang tinggal di rumah adat Tongkonan. Aku juga mendatangi banyak sekali makam unik khas Toraja. Ada perkuburan di tebing-tebing batu. Ada juga pemakaman bayi di dalam pohon besar.

Budaya ini masih dilakukan warga Toraja jalani sampai hari ini. Selain itu, banyak warga masih mendandani jenazah keluarga mereka dan menggantikan baju mereka tiga kali dalam setahun. Tradisi ini disebut Ma’nene. Masyarakat Toraja percaya bahwa dengan membersihkan mumi jenazah keluarga mereka dan menggantikan bajunya, maka keluarga yang masih hidup akan mendapatkan keberuntungan berlimpah dan dituntun jalan hidupnya oleh para leluhur.

Sangat menarik melihat bagaimana masyarakat Toraja menghormati dan menjaga jenazah keluarga yang sudah meninggal. Tradisi ini masih sangat mereka jaga hingga sekarang. Semoga tradisi ini akan terus lestari. Apakah kalian tertarik untuk melihat sendiri tradisi tersebut? Jika iya, tidak salah rasanya menjadikan Toraja dengan budaya yang sangat menarik sebagai destinasi liburan kalian selanjutnya.