Berkenalan dengan Kelupi, Alat Peras Tebu Masyarakat Dayak

Tidak banyak literatur yang membahas alat unik ini menjadi bukti jika kelupi tebu sudah mulai dilupakan, bahkan di kalangan masyarakat Dayak.

Bisa dibilang, satu-satunya tempat yang masih menyediakan kelupi tebu saat ini ada di Desa Wisata Setulang, Malinau, Kalimantan Utara. Bukan hanya dilihat, kita juga bisa mempraktekkan langsung cara memeras tebu dengan alat tradisional ini.

Secara sederhana, kelupi tebu menggunakan satu batang kayu utuh. Kayu itu dipasang belasan potongan kayu kecil yang berfungsi sebagai tuas pemutar. Masyarakat setempat biasa menggunakan kayu ulin yang terkenal kuat sebagai bahan dasar kelupi.

Batang kayu tersebut diletakkan di sebuah tempat penampungan tebu yang terbuat dari kayu juga. Cara memeras tebu sebenarnya cukup mudah. Batang kayu diputar-putar menggilas batang-batang bambu yang sudah dikumpulkan di tempat penampungan.

Walau terlihat mudah, namun proses pemerasan terasa begitu berat lantaran ukuran batang kayunya yang amat besar. Butuh lebih dari lima orang untuk memutar kelupi agar tebu yang tebu terperas dengan sempurna.

Selama proses pemerasan tebu dengan kelupi, masyarakat biasanya mengiringi para pemeras dengan musik-musik dan tarian tradisional. Tujuannya, agar para pemeras tebu terus merasa senang.

Inilah makna filosofisnya. Pekerjaan seberat apapun akan terasa ringan jika dikerjakan bersama-sama, apalagi dengan hati yang senang.

Kelupi tebu yang ada di Desa Wisata Setulang ini baru diperkenalkan Oktober 2018 lalu. Penyebabnya, tradisi memeras tebu sudah hampir punah, sehingga pemerintah setempat merasa harus menghidupkan kembali tradisi yang penuh makna itu.

Tidak hanya menjadi atraksi wisata, pemerintah Kabupaten Malinau juga berencana memproduksi gula pasir secara tradisional dengan kelupi. Tidak untuk dijual secara luas memang. Namun setidaknya bisa untuk memenuhi kebutuhan warga sekitar dan mencukupi kebutuhan di kantor kabupaten.

Desa Wisata Setulang sendiri merupakan tempat bermukimnya 230 suku Dayak Kenyah. Dahulu warga Dayak Kenyah ini bermukim di Long Sa’an, sebuah tempat yang amat terpencil di ujung Kalimantan Utara, jauh dari peradaban manusia. Long Sa’an berbatasan langsung dengan Malaysia.

Namun sejak 50 tahun lalu, mereka memutuskan untuk bedol desa, bermigrasi ke tempat yang lebih terbuka. Setelah berjalan kaki menembus hutan perawan di Kalimantan Utara, mereka sampai juga di tepi Sungai Setulang. Di sinilah mereka kemudian melanjutkan hidup hingga hari ini.