Masjid Agung Demak, Saksi Kesaktian Para Wali

Bangunan masjid ini terbuat dari kayu jati yang ditopang oleh empat buah tiang. Tiang-tiang ini terbuat dari tiang kayu atau disebut saka guru. Konon, empat saka ini dibuat oleh para Wali Songo.

Demak dikenal sebagai Kota Santri. Daerah di Jawa Tengah ini memang dikenal sebagai tempat berkembangnya agama Islam di seluruh nusantara, khususnya karena keberadaan pada wali. Salah satu bangunan yang menjadi saksi berkembangnya ajaran Islam di Indonesia adalah Masjid Agung Demak.

Bangunan masjid ini terbuat dari kayu jati yang ditopang oleh empat buah tiang. Tiang-tiang ini terbuat dari tiang kayu atau disebut saka guru. Konon, empat saka ini dibuat oleh para Wali Songo. Saka di sisi tenggara dibuat oleh Sunan Ampel, sebelah Barat oleh Sunan Gunung Jati, barat daya oleh Sunan Bonang dan di sebelah timur laut dibangun oleh Sunan Kalijaga.

Saka buatan Sunan Kalijaga adalah yang paling unik. Saka ini terbuat dari serpihan-serpihan kayu sisa yang diikat. Meski begitu, saka buatan Sunan Kalijaga sangat kuat, sama seperti saka lainnya. Menurut cerita, para wali membangun masjid ini hanya dalam waktu semalam.

Pintu utama Masjid Agung Demak digunakan sebagai antipetir. Pintu ini dibuat oleh Ki Ageng Selo pada 1446 Masehi dan terbuat dari kayu jati yang diukir. Salah satu bentuk ukiran yang paling menonjol adalah adanya dua kepala naga.

Di bagian luar, terdapat kolam wudu, tepatnya di samping masjid. Kolam berukuran 10x25 meter ini disebut sebagai tanda awal berdirinya masjid. Kolam ini diyakini sebagai tempat para wali untuk wudu.

Ajaran Islam berkembang saat agama Hindu masih menjadi kepercayaan mayoritas masyarakat di sana. Raden Patah, sultan Demak saat itu, membuat atap berundak hasil akulturasi budaya dengan agama Hindu. Menurut kisah yang turun temurun diceritakan, salah satu dari tiga undakan konon dipercaya terbuat dari hidangan berbahan kerak nasi liwet atau intip.

Di serambi teras masjid ada dua buah beduk berukuran 3,5x2,5 meter. Serambi berbentuk limas yang ditopang delapan tiang atau disebut Saka Majapahit. Atap limas masjid terdiri dari bagian yang menggambarkan Iman, Islam dan Ihsan. Ada pulas Pintu Bledeh yang mengandung makna "candra sengkala" yang dapat dibaca "Naga Mulat Salira Wani" bermakna 1388 Saka atau 1466 atau 887 Hijriah, tahun masjid ini dibuat.

Di dalam masjid, terdapat makam raja-raja Kesultanan Demak. Di dalam komplek ini, terdapat Museum Masjid Agung Demak yang menyimpan berbagai hal mengenai riwayat Masjid Agung Demak. Masjid Agung Demak juga telah  diakui oleh UNIESCO sejak 1995 sebagai Situs Warisan Dunia.