Berkunjung ke Senggarang, Bertemu Dewa dan Dewi

Letak Vihara Dharma Sasana juga cukup strategis, berada di tepi laut dengan pemandangan lepas pantai di Pulau Penyengat. Area vihara juga sangat luas, tapi Sobat Pesona akan dengan mudah menemukan patung-patung para dewa yang tersebar di halaman.

Senggarang merupakan salah satu daerah di Pulau Bintan, Riau, yang mayoritas penduduknya adalah keturunan Tionghoa. Salah satu  yang terkenal adalah Vihra Dharma Sasana yang disebut sebagai yang tertua di Sengarang. Meski begitu, kondisinya masih sangat terawat. Vihara ini sebenarnya bukanlah tempat wisata, melainkan tempat untuk beribadah. Namun, karena keindahan arsitektur dan patung-patung yang menarik untuk dilihat, banyak pengunjung yang datang ke sini untuk berwisata.

Letak Vihara Dharma Sasana juga cukup strategis, berada di tepi laut dengan pemandangan lepas pantai di Pulau Penyengat. Area vihara juga sangat luas, tapi Sobat Pesona akan dengan mudah menemukan patung-patung para dewa yang tersebar di halaman.

Area vihara sangat nyaman untuk dijelajahi karena rimbun pepohonan di sekitarnya. Suasana di sini juga sejuk dengan semilir angin pantai. Sepanjang perjalanan, Sobat Pesona pasti akan mencium bau dupa yang khas.

Kebanyakan patung di vihara berwarna kuning keemasan dan sedikit kesan merah. Di halaman depan, terdapat patung Dewi Kwan Im yang dipercaya merupakan Dewi Penolong. Tak jauh dari situ, ada patung Dewa Mabuk bersama anak buahnya. Dewa Mabuk "duduk" di atas bebatuan kolam yang dipenuhi ikan koi.

Berjalan ke belakang bagian halaman, Sobat Pesona bisa menemukan patung ular naga yang disebut Liong. Sobat Pesona juga dapat menyaksikan indahnya patung Dewa Seribu Tangan. Patung ini adalah yang paling besar. Tak heran di sekelilingnya ada pagar besi agar tetap terjaga.

Tak jauh dari Dewa Seribu Tangan, Sobat Pesona bisa melihat patung Sun Go Kong yang terkenal itu. Sun Go Kong "ditemani" oleh patung siluman babi, siluman kerbau dan guru yang menemani mereka mencari kitab suci.

Senggarang juga memiliki empat klenteng yang semuanya didirikan pada 1719. Tiap klenteng memiliki fungsi yang berbeda, tergantung doa yang dipanjatkan kepada dewa. Pertama, ada klenteng Sun Te Kong atau Kuil Dewa Api. Klenteng ini digunakan untuk berdoa meminta keselamatan, kebahagiaan dan kesehatan.

Kedua, ada Klenteng Marco yang digunakan khusus untuk meminta keselamatan selama melaut. Ketiga, Klenteng Tay Tikong atau Kuil Dewa Tanah atau Dewa Bumi. Klenteng ini untuk meminta hasil panen yang melimpah. Keempat, disebut dengan Kamuni atau Klenteng Tien Shang Miao. Warga sekitar menyebutnya Klenteng Beringin karena banyak pohon beringin yang menutupi atap dan dinding luarnya.