Perjuangan Bung Karno, Diasingkan di Ende dan Lahirnya Pancasila

Bung Karno diasingkan bersama dengan Inggit Garnasih, istrinya, dan ibu mertua Amsi. Mereka menempati rumah sederhana milik Abdullah Ambuwaru, tanpa listrik apalagi air bersih.

Tak hanya indah, daerah Ende di Nusa Tenggara Timur juga menjadi saksi sejarah penting putra bangsa terbaik Indonesia yaitu Soekarno atau lebih dikenal Bung Karno, presiden pertama negara. Ende menjadi tempat bersejarah karena menjadi tempat Bung Karno diasingkan oleh Belanda pada 1943 hingga 1938.

Saat diasingkan, Bung Karno dan keluarganya diasingkan di sebuah rumah yang terletak di Jalan Perwira, Ende bagian utara. Di rumah tersebut, Bung Karno menjalankan hari-harinya. Ende dipilih oleh pemerintah Belanda saat itu karena dianggap jauh dari politik dan jauh dari rekan-rekan seperjuangannya yang kebanyakan tinggal di Pulau Jawa. Saat itu, Ende seperti daerah yang terisolasi dari segala bentuk hiruk pikuk negara yang sedang ia perjuangkan. Akibat dari pengasingan ini, Bung Karno sempat merasa tertekan.

Bung Karno diasingkan bersama dengan Inggit Garnasih, istrinya, dan ibu mertua Amsi. Mereka menempati rumah sederhana milik Abdullah Ambuwaru, tanpa listrik apalagi air bersih.

Selama diasingkan, Bung Karno sesekali menyapa warga yang lewat di depan rumah tersebut. Dari situ, Bung Karno mulai membentuk lingkungannya sendiri dengan mengumpulkan warga di sana. Mereka adalah para pemetik kelapa, nelayan, tukang jahit, sopir dan pembantu yang tidak bekerja.

Sehari-hari, Bung Karno lebih senang berkebun atau sekadar membaca buku. Di waktu luang, Bung Karno mulai melukis dan membuat naskah drama. Tercatat ada 12 naskah sandiwara yang ditulis oleh Bung Karno dan sempat dipentaskan di Ende.

Pengasingan ini membuat Bung Karno belajar banyak hal-hal baru. Di sinilah Bung Karno belajar soal pluralisme dan mulai membuka obrolan dengan misionaris, yaitu P Johanes Bouma dan P Gerardus Huijtink. Di Ende, Bung Karno juga bertemu dengan kelompok dari berbagai agama, suku, budaya dan bahasa.

Seiring dengan banyaknya teman baru Bung Karno, pikirannya juga semakin terbuka. Bung Karno banyak berdiskusi dengan para misionaris tentang cita-citanya ingin negara Indonesia yang merdeka.

Tubuh Bung Karno memang diasingkan, tapi pikirannya terus berjalan dan menambah wawasan. Dengan semangat dari istri tercinta, Bung Karno terus memikirkan cita-citanya dan merenungkan nasib negaranya.

Bung Karno biasanya merenung di sebuah taman, di bawah pohon sukun. Di taman ini, ada sebuah pohon sukun bercabang lima yang menghadap ke arah laut. Menurut catatan sejarah, di bawah pohon sukun ini, lahirkan pemikiran Bung Karno tentang dasar negara Indonesia atau yang kini lebih dikenal sebagai Pancasila.  Pohon sukun itu kemudian disebut sebagai Pohon Pancasila.

Jika Sobat Pesona ingin mengenal sejarah Bung Karno lebih dalam, Situs Pengasingan Bung Karno di Ende adalah pilihan yang tepat. Di situs ini, sejumlah barang peninggalan Bung Karno masih tersimpan dan dijaga dengan baik.