Muaro Jambi, Keindahan Alam yang Bersatu dengan Wisata Religi

Ada sembilan candi di kompleks percandian Muaro Jambi. Candi-candi di Muaro Jambi sering digunakan untuk perayaan Waisak sebagai alternatif kedua untuk warga sekitar selain merayakannya di Candi Borobudur.

Muaro Jambi adalah kompleks percandian agama Budha  terluas di Asia Tenggara dengan luas 3981 meter persegi. Muaro Jambi terletak di tepian sungai Batang Hari, sekitar  26 km arah timur dari kota Jambi, tepatnya di kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi. Disebut kompleks percandian karena di lokasi tersebut terdapat 9 buah candi, yaitu Candi Kotomahligai, Candi Kedaton, Candi Gedong Satu, Candi Gedong Dua, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Telago Rajo, Candi Kembar Batu dan Candi Astano. Kompleks ini mulai ditemukan tahun 1924 oleh tentara Inggris berpangkat letnan bernama S.C Crooke yang sedang melakukan pemetaan untuk kepentingan strategi perang di Sungai Batang Hari.

Para ahli memperkirakan kawasan cagar budaya ini sebagai peninggalan kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Melayu yang berkembang  di abad 7 sampai 13. Kompleks percandian ini diyakini sebagai pusat pendidikan agama Budha di Asia Tenggara. Penyebutan nama Jambi yang dalam ejaan Tiongkok Chan Pi sudah dimulai abad ke-7 M dan masih disebut-sebut sampai abad ke-11 Masehi.

Dapunta Hyang Sri Jayanasa penguasa Sriwijaya dalam waktu tiga tahun berhasil menaklukkan kerajaan Melayu Jambi. Ditaklukan pula kerajaan Ye-Po-Ti  (Way Seputih) yang masih serumpun di pantai Sumatera bagian selatan dan kerajaan Bangka dalam rangka perjalanan menaklukkan ke Bumi Jawa. Namun, Dapunta Hyang Sri Jayanasa tidak melanjutkan perjalanan ke bumi Jawa, tetapi mengutus panglima terbaik yang juga kerabat dekatnya, Dapunta Syailendra, untuk menaklukkan Jawa.

Pada akhirnya, Dapunta Syailendra membangun sendiri kerajaannya yang lepas dari Sriwijaya. Awalnya, Dapunta Hyang Sri Jayanasa gusar, tetapi akhirnya mengizinkan dengan syarat harus membangun candi di Ligor Muangthai dan Candi Borobudur di Jawa Tengah. Dapunta Syailendra menyanggupi, walaupun pada kenyataannya baru selesai dibangun 100 tahun kemudian.

Sejak tahun 2017, umat Budha di seputar Jambi didukung oleh pemerintah provinsi untuk menyelenggarakan perayaan Waisak. Kegiatan ini menjadi menarik lantaran dapat dijadikan sebagai pengembangan wisata bagi Jambi. Bagi umat Budha diseluruh Nusantara maupun di dunia, kawasan ini menjadi potensi wisata religi. Sementara bagi wisatawan, kawasan ini sudah disahkan oleh UNESCO menjadi warisan budaya dunia.

Didukung oleh situasi geografis sekitar komplek percandian yang dikelilingi oleh kanal kuno yang berpusat di salah satu candi, Sobat Pesona bisa berperahu mengelilingi lokasi ini. Uniknya lagi, jika kita berdiri di tengah Candi Kedaton di siang hari saat  Waisak, bayangan kita akan hilang. 

Disebelah barat, tak jauh dari kompleks di kompleks Candi Kedaton, terdapat Candi Mahligay. Sobat Pesona dijamin akan terkagum-kagum melihat tumbuh pohon-pohon raksasa yang diperkirakan berumur 500 tahun tumbuh di atas reruntuhan candi.

 

Reporter: Ati Bachtiar