7 Fakta Kemegahan Gunung Tambora Nusa Tenggara Barat

Tambora memiliki sejarah luar biasa menakutkan, gunung dengan letusan terdahsyat di dunia. Letusannya menghasilkan kaldera terbesar di Indonesia, terhampar di tubuh gunung dengan panorama indahnya.

Gunung Tambora Nusa Tenggara Barat memiliki banyak sekali keunikan. Keindahan alam dan budayanya merupakan salah satu destinasi memikat di Nusa Tenggara Barat. Kemegahannya menjulang di jantung Pulau Sumbawa. Nah, sebelum berangkat ke Tambora, yuk ulik 7 fakta dahsyat yang menyelimuti gunung api setinggi 2.850 meter di atas permukaan laut ini.


Kawah Terluas di Indonesia
Jika ada pertanyaan kawah atau kaldera gunung terluas di Indonesia maka jawabannya adalah Kaldera di Gunung Tambora. Letusan dahsyatnya yang terjadi April 1815 meninggalkan kaldera Gunung Tambora dengan luas 7 kilometer dan kedalaman 1 kilometer.


Raungan Terdengar Ribuan Kilometer
Tambora merupakan gunung api yang masih aktif. Pada zaman kolonial, orang-orang mengira gemuruh yang terjadi di sekitar NTB berasal dari suara meriam, tapi ternyata gemuruh itu adalah gaung dari Gunung Tambora. Diperkirakan suara gemuruh itu terdengar hingga Bengkulu yang jaraknya kurang lebih 2.600 kilometer.


Erupsi Terdahsyat di Dunia
Menurut catatan Gubernur Hindia Belanda waktu itu, Thomas Stamford Raffles, letusan dahsyat tanggal 10 April 1815 ersebut terdengar sampai ke Sumatera. Ledakan terdengar hingga 2.600 kilometer jauhnya, dan abunya jatuh hingga sejauh 1.300 kilometer. Sejarah mencatat letusan gunung Tambora mengeluarkan material vulkanik sekitar 50 kilometer kubik, menghasilkan kubah kolosal setinggi hampir 40 sampai 50 kilometer dan membawa abu dalam jumlah besar di angkasa.

Dalam skala kekuatan erupsi gunung berapi, Volcanic Explosivity Index (VEI), letusan Tambora menempati VEI 7 atau tertinggi kedua dari puncak VEI 8. Karena dahsyatnya letusan ini, gunung Tambora yang mulanya setinggi 4.300 mdpl terpangkas jadi 2.772 mdpl.


Tambora Sedang Tidur
Sebelum meletus pada tahun 1815, Tambora telah meletus tiga kali. Kini gunung ini kembali tidur karena dipastikan masih aktif. Untung keaktifannya tidak terlalu mengganggu aktivitas masyarakat.


Pompeii Dari Timur
Letusan Tambora pada April 1815 sangat dahsyat. Menurut naskah kuno Kerajaan Bima, Bo Sangaji Kai, di lereng Tambora, ada tiga kerajaan yang tercatat yaitu Kerajaan Tambora, Kerajaan Sanggar, dan Kerajaan Pekat. Semuanya musnah karena letusan Tambora. Sekitar 12 ribu masyarakat meninggal karena tragedi ini. Lalu 92 ribu orang meninggal setelah seminggu dari letusan tersebut karena kelaparan. Tragedi ini mirip dengan tragedi di Pompeii, Romawi sehingga Tambora mendapatkan sebutan ‘Pompeii Dari Timur’.


Pengaruhi Iklim Dunia
Letusan yang dahsyat membuat Asia Tenggara dipenuhi oleh abu sehingga langitpun menjadi gelap. Bahkan bumi bagian utara tidak mengalami musim panas pada tahun 1816 sehingga mengalami musim dingin yang paling panjang dan terburuk. Hal tersebut bisa dilihat dari suhu dunia yang menurun sekitar 0,4 derajat Celcius sampai 0,7 derajat Celcius.

Clive Oppenheimer dalam tulisannya berjudul "Climatic, Environmental and Human Consequences of the Largest known Historic Eruption: Tambora Volcano (Indonesia) 1815" menyebut kabut kering terlihat dari timur laut Amerika Serikat. Panen di Eropa hingga India gagal, timbul wabah kolera di Bengal pada 1816, tifus di wilayah Eropa tenggara dan timur Mediterania antara 1816 sampai 1819.


Kehilangan Sepertiga Tubuh Gunung
Karena letusan yang benar-benar dahsyat pada tahun 1815 silam, Gunung Tambora kehilangan sepertiga puncaknya. Ini bisa dilihat dari ukuran gunung yang sebelumnya mencapai 4.300 mdpl, dan sekarang hanya tersisa kurang lebih 2.000 mdpl saja.


Foto: Dwi Oblo