Nyadran, Tradisi Ramadhan Hasil Akulturasi Budaya di Jawa

Keanekaragaman Indonesia memang selalu menarik untuk dibahas, salah satunya tradisi yang dijalankan saat menyambut bulan Ramadhan.

Tradisi yang terus dilakukan merupakan salah satu bentuk pelestarian warisan peninggalan leluhur. Hal ini juga yang dipegang teguh sebagian besar masyarakat muslim di Jawa. Untuk menyambut bulan Ramadhan, mereka melaksanakan Nyadran.

Nyadran merupakan serangkaian tradisi yang berisi beberapa kegiatan, seperti Punggahan, Nyadran, dan Madunan. Secara garis besar, tradisi ini memiliki maksud untuk mendoakan para leluhur maupun keluarga yang sudah wafat. Masyarakat Jawa biasanya membersihkan makam sanak saudara yang telah meninggal dunia.

Banyak pendapat yang menjelaskan tentang asal usul nama Nyadran. Sebagian percaya, Nyadran berasal dari bahasa Sansekerta. “Sraddha” berarti keyakinan, lalu dialihbahasakan ke bahasa Jawa menjadi “Sadran” yang berarti Sudra, atau orang awam. Dengan kata lain, Sadran adalah waktu berkumpul bagi orang awam.

Sebagian lagi mengatakan bahwa Nyadran berasal dari kata “Sodrun” yang memiliki arti dada atau hati.

Tradisi Nyadran biasanya dilaksanakan pada hari ke 10 bulan Rajab atau tanggal 15, 16 Sya’ban. Masyarakat yang melaksanakan tradisi ini akan melakukan ziarah kubur, melakukan doa dan pengajian bersama serta diakhiri dengan makan bersama yang dibawa oleh setiap warga saat mengikuti tradisi ini.

Upacara Nyadran awalnya merupakan tradisi Hindu dan Buddha yang ada di Jawa. Namun ketika penyebaran agama Islam di pulau Jawa sekitar abad 15, Walisongo menggunakan cara pendekatan budaya yang digabungkan dengan dakwah untuk penyebaran Islam.

Jika dalam upacara Nyadran umat Hindu dan Buddha menggunakan puji-pujian serta sesajen, Walisongo mengubahnya dengan menggunakan zikir, doa, dan pembacaan ayat Al-Qur’an.

Akulturasi budaya seperti ini yang membuat penyebaran Islam lebih mudah dikenal dan diterima oleh masyarakat Jawa.

Tradisi Nyadran juga dimaksudkan sebagai salah satu bentuk silaturahmi antar keluarga, tetangga, dan masyarakat luas. Selain itu, menjadi sarana intropeksi diri terhadap apa yang telah dilakukan selama setahun kebelakang dan sebagai pengingat untuk bersyukur karena dapat dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan.


Foto: Gholib