Menonton di Bioskop Kuno yang Unik Milik Suku Dayak Lundayeh

Hiburan masyarakat Suku Dayak Lundayeh yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Masyarakat Suku Dayak Lundayeh berkumpul bersama untuk mendengarkan cerita tentang nenek moyang mereka.

Sebuah batu besar menyembul dari tanah, hampir menutupi jalur trekking kami di pinggir sungai. Batu unik ini dikelilingi oleh bambu dan pepohonan yang rindang. Di dekatnya terdapat aliran sungai kecil yang jernih. Letaknya cukup tersembunyi dan konon hanya diketahui oleh Suku Dayak Lundayeh, Kalimantan Utara.

Suku Dayak Lundayeh adalah sub-suku dari Suku Dayak yang mendiami kawasan Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Wilayah Krayan juga berbatasan langsung dengan Malaysia di daerah Sabah dan Brunei Darussalam di daerah Temburong.

Petualangan kami dipandu oleh Pak Melud (73 tahun) merupakan seorang pemandu lokal dari Buduk Kinangan. Beliaulah yang membantu kami dalam perjalanan menuju Batu Narit. 

Ketika sampai di lokasi, kami menyadari bahwa Batu Narit memiliki beberapa ukiran di atasnya. Sekali lihat, kami tahu ada bentuk menyerupai ular melingkar di bagian depan. Namun, Batu Narit menyimpan keunikan yang lebih dari hanya sekadar ukiran. 

Bagi Suku Dayak Lundayeh, bercerita menjadi salah satu cara untuk mentransfer ilmu dari generasi ke generasi. Nah, Batu Narit merupakan media visual untuk bercerita. Bagaimana bisa? Kami menyaksikan langsung dari Pak Melud. Mula-mula, Pak Melud berdiri di atas Batu Narit. Lalu, beliau mulai bercerita sembari berjalan di atasnya dan menyiramkan air. Perlahan kami melihat bentuk ukiran lainnya dan semakin lama semakin banyak. Inilah cara masyarakat  Suku Dayak Lundayeh menggunakan Batu Narit untuk bercerita. 

Hal yang lebih menarik, kami jadi semakin mendalami cerita Pak Melud dengan adanya backsound di sekitar kami. Suara ini berasal dari bunyi gemericik air, kiacauan burung dan daun-daun yang bergesekan tertiup angin. Bahkan, depan Batu Narit terdapat kayu-kayu panjang yang disusun bertingkat, mirip seperti kursi di bioskop. Keren, kan?

Menonton "berlayarkan" Batu Narit dengan backsound suara alam yang syahdu dan narasi dari Pak Melud merupakan pengalaman yang tidak bisa digantikan ketika kita menonton film di bioskop zaman sekarang. Batu Narit dan segala keistimewaannya akan terus ada untuk menyimpan cerita bagi generasi ratusan tahun yang akan datang.

Trekking Menuju Batu Narit

Lokasi Batu Narit dapat dimulai dari daerah Pa’Rupai.  Untuk mencapai daerah ini, Sobat Pesona bisa menyewa mobil four wheel drive dari Long Bawan selama 30 menit hingga 45 menit menuju Pa'Rupai. Perjalanan dapat dilanjutkan dengan trekking sekitar satu jam hingga tiba di lokasi Batu Narit.

Sepanjang perjalanan, Sobat Pesona bisa berhenti sejenak untuk mencicipi buah-buahan hutan yang tumbuh subur. Kita bisa mencoba durian yang manis, buah mata kucing yang mirip lengkeng dan buah terap yang mirip dengan cempedak.