Tugu-Tugu ikonik di Aceh Pengingat Sejarah Penting

Monumen ini dibangun untuk mengenal dan mengingat sejarah yang pernah terjadi di Aceh. Mulai dari tugu yang memiliki filosofi tinggi, sejarah kedermawanan rakyat Aceh, hingga monumen bencana terbesar yang pernah melanda Aceh.

Kota yang dikenal sebagai Serami Mekkah ini tak hentinya memberikan pesona. Tak hanya terkenal dengan nilai budaya yang sangat melekat kuat. Di Aceh juga banyak menyimpan sejarah menarik, terutama sejarah penting untuk Republik Indonesia yang tertuang dalam bentuk monumen atau tugu.

Nah, berikut ini Pesona Travel akan memberikan tiga tugu ikonik di Aceh yang bisa menjadi pengingat sejarah penting bagi Indonesia, terutama Aceh. Yuk, disimak!


Tugu Simpang 5 Aceh
Mungkin ini salah satu tugu atau monumen di Aceh yang sangat ikonik. Karena lokasinya berada di pusat kota dan punya nilai filosofi yang sangat mendalam. Tugu ini berada di lima persimpangan jalan protokol yang selalu padat, yaitu jalan Tgk. H. M. Daud Beureuh, T. Panglima Polem, Sri Ratu Safiatuddin, Pangeran Diponegoro, dan jalan Teungku Angkasa Bendahara.

Ada 4 eksplorasi konsep dari tugu Simpang Lima Aceh ini, yaitu axis-oriented (sumbu), urban oase, multi-purposes building, dan landmark kota Banda Aceh. Tugu ini punya lima pilar utama, yang merujuk pada lima Rukun Islam. Pilar tersebut berbentuk setengah “Pintoe Aceh” yang menjulang ke atas. Jika dilihat dari berbagai sudut di Simpang Lima, desain tugu tampak dinamis dan kaya visualisasi.


Monumen Seulawah
Ini merupakan monumen dengan ikon pesawat Dakota RI-001 Seulawah, milik Republik Indonesia yang pertama. Pesawat ini diberi nama Seulawah, karena dibeli dari uang donasi masyarakat Aceh. Pada 1948, Presiden Soekarno berada di Aceh berusaha membangkitkan rasa patriotisme masyarakat Tanah Rencong. Ketika itu, presiden mengajak warga Aceh untuk urun rembug menyumbang dana demi membeli sebuah pesawat pertama yang dimiliki bangsa Indonesia.

Singkat cerita, masyarakat Aceh bersemangat dan bergotong royong mengumpulkan dana dan harta benda mereka yang setara dengan nilai 20 kilogram emas. Selanjutnya, dana yang terkumpul dibelikan satu pesawat jenis Dakota DC-3 dari Singapura.

Pesawat tersebut diberi nama Dakota RI-001 Seulawah. Dalam bahasa Aceh, Seulawah berarti ‘gunung emas’. Nah, pesawat inilah yang kemudian menjadi “tulang punggung” Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dari serangan agresi militer Belanda. Pesawat ini pula yang mengangkut para prajurit yang ditugaskan ke daerah konflik perang, sekaligus mengangkut barang.


Kapal PLTD Apung
Kapal besar ini menjadi saksi sejarah bencana tsunami yang melanda Aceh. Sehingga saat ini, kapal ini pun dijadikan monumen peringatan tsunami di aceh, sekaligus tempat wisata. Sejak April 2012, kapal ini sengaja dikelilingi  pagar besi setinggi 1,5 meter. Beragam fasilitas ditambah, mulai dari jembatan, prasasti hingga ruang dokumentasi.

Di depan pos jaga terdapat prasasti setinggi kurang lebih 2,5 meter. Di bagian paling atas terdapat jam bundar yang merujuk angka 07.55 WIB, yang merupakan waktu terjadinya tsunami kala itu. Di bawah prasasti berisi nama-nama desa dan korban jiwa. Di dekat prasasti terdapat relief terbuat dari tembaga yang berkisah terdamparnya PLTD.

Setelah melintasi prasasti, kita akan langsung dihadapkan pada kapal raksasa yang bagian bawahnya terbenam di tanah. Ada beberapa undakan di kapal ini. Di puncak terdapat beberapa teropong. Jika diarahkan ke utara, maka terpampang Samudera Hindia, ke selatan dan timur ada Kota Banda Aceh, dan ke arah barat ada kota dan perbukitan.

Itulah tiga monumen dan tugu yang cukup ikonik di Aceh. Monumen ini dibangun untuk mengenal dan mengingat sejarah yang pernah terjadi di Aceh. Jadi, kalau kita mengunjungi Aceh jangan lupa untuk singgah ketiga monumen tersebut, ya. Hitung-hitung sekalian kita belajar sejarah di kota Serambi Mekkah ini.