Belajar Toleransi di Pesantren Kauman Lasem

Lasem dikenal dengan Kota Tiga Budaya, yaitu Tionghoa, Jawa, dan Arab. Salah satu wujud nyatanya terlihat dari bangunan sebuah Pesantren Kauman di daerah Karangturi yang memadukan tiga budaya menjadi satu kesatuan.

Di tengah-tengah kota tua Lasem, tepatnya di Karangturi, di Semarang, terdapat komplek pemukiman warga Tionghoa dengan bangunan-bangunan rumah besar yang sangat khas.  Bangunan rumah tersebut memiliki pilar besar mirip bangunan model Belanda, tetapi ornamen pintu-pintunya berukir tanda panah khas Jawa Mataraman. 

Begitu memasuki ruangan dalam, Sobat Pesona akan menjumpai ruangan pedupaan khas Tionghoa.  Inilah bentuk Pesantren Kauman yang mengadaptasi dari budaya yang datang ke Lasem.

Ditilik dari sejarahnya, Lasem adalah kota pelabuhan dan perdagangan. Seiring dengan datangnya masyarakat Tionghoa yang datang, Lasem kemudian dijuluki sebagai “Tiongkok Kecil”, dan berkembang menjadi perkampungan Tionghoa sekitar abad ke-15.

Pedagang Islam juga dan ajarannya juga ikut berkembang. Seiring dengan berjalannya penyebaran agama Islam, Lasem juga menjadi Kota Santri. Hingga saat ini, Lasem memiliki banyak pesantren dengan nilai historis dari berbagai budaya, Setidaknya ada tiga etnis utama yang berkembang di Lasem, yaitu Jawa, Tionghoa, dan Arab. Semua melebur menjadi satu.

Sejarah berdirinya Lasem yang plural inilah yang mengilhami Gus Zaim, pengasuh Pondok Pesantren Kauman, untuk membuat pesantren yang menjunjung tinggi nilai toleransi. Bukan hanya dengan cara mempertahankan arsitektur Tionghoa di pesantren, Gus Zaim juga mengajarkan nilai toleransi yang nyata dalam kehidupan sosial para santri dengan tetap menegakkan nilai-nilai Islam yang rahmatan alamin. Itu sebabnya, meski terletak di tengah pemukiman etnis Tionghoa, relasi santri Pondok Pesantren Kauman dengan masyarakat sekitarnya berlangsung dengan baik dan harmonis.

Bangunan utama Pesantren Kauman merupakan bekas rumah penduduk keturunan Tionghoa yang dibeli untuk kemudian dipakai sebagai pesantren.  Keaslian bangunan dan ornamen-ornamen cina yang ada tetap dipertahankan. Bahkan bangunan-bangunan tambahan juga dibangun dengan memasukkan unsur-unsur dan warna Tionghoa. Misalnya, Gardu ronda di bagian depan yang sangat kental dengan arsitektur khas Tionghoa. Gardu dihiasi dengan tulisan Tionghoa di sebelah kiri dan tulisan Arab di sebelah kanan pintunya.

Pada pintu bangunan utama terdapat ornamen aksara Tionghoa. Pada pintu bagian kanan ditulis, “Semoga panjang umur setinggi gunung Himalaya”. Sedangkan pada pintu kiri tertulis, “Semoga luas rezekinya sedalam Lautan Hindia”. Ini merupakan doa dan harapan dari pemilik asli rumah. Konon, dia adalah adalah seorang saudagar keturunan Tionghoa.  Bangunan utama ini, dijadikan kediaman keluarga, tetapi kita diperbolehkan untuk melihat-lihat sampai dengan ruang tengah.

Apabila hendak melaksanakan salat, Sobat Pesona dapat melakukannya di masjid kecil di depan bangunan utama.  Masjid itu dibuat terbuka dengan struktur bangunan kayu dengan gebyok di dinding depan dan tetap mempertahankan ukiran atau ornamen Jawa pada setiap sudut bangunan masjid. 

Jika Sobat Pesona ingin menikmati keindahan arsitektur Kauman Lasem, pesantren ini terbuka untuk semua pengunjung dan para santri akan menyambut kita dengan sangat ramah.  Mereka akan memberikan informasi tentang Pesantren Kauman. Kita juga diberikan kesempatan untuk berkeliling melihat bangunan-bangunan dan juga melihat koleksi-koleksi buku-buku serta cendera mata.