Asal Usul Nama Kolam Susuk, Dikenal Karena Sebuah Lagu

Kolam Susuk makin dikenal banyak orang melalui sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Koes Plus, dengan judul Kolam Susu. Namun, nama Susuk itu sendiri mengandung arti nyamuk dalam bahas setempat. Jadi, kolam ini dikenal dengan kolam banyak nyamuk, loh!

Mungkin kalau mendengar nama kolam susu, kita langsung berpikir ‘apa benar isinya susu?’. Tentu tidak berisi air susu. Kolam Susuk merupakan sebuah danau yang berada di Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tidak diketahui secara pasti kapan Kolam Susuk ditemukan, tetapi keberadaan objek wisata ini sudah ada sejak dahulu kala, dan banyak dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari dengan menangkap ikan, udang, hingga kepiting.

Lantas, dari mana asal-usul Kolam Susuk itu sendiri?

Danau ini terbentuk secara alami dan memiliki tanah berwarna putih. Sehingga kalau terkena sinar matahari airnya memantulkan cahaya yang berwarna putih seperti susu. Ini menjadi alasan mengapa danau ini disebut; kolam susu.

Lalu, karena dikelilingi hutan bakau yang lebat menyebabkan banyak nyamuk di sekitar danau, akhirnya masyarakat setempat menamai kolam tersebut dengan sebutan Kolam Susuk, atau dalam bahasa Indonesia disebut kolam nyamuk. Selain itu hutan bakau ini juga merupakan tempat tinggal bagi ribuan kelelawar, kera jenis lokal, hingga kepiting bakau.

Kolam Susuk makin dikenal banyak orang melalui sebuah lagu yang dipopulerkan oleh band legendaris, Koes Plus. Hal ini terinspirasi dari kunjungan Koes Plus pada 1971, saat melakukan perjalanan dari Kupang menuju Dili. Karena keindahan yang alami dan keunikan kolam ini, Almarhum Yon Koeswoyo, salah satu personil utama Koes Plus terkesima. Kemudian mengabadikan kolam itu dengan menciptakan sebuah lagu yang sangat legendaris “Kolam Susu”.

Selain itu sebagai tanda mata bagi masyarakat Kabupaten Belu, grup ini menyumbangkan sebuah sekolah dasar (SD) dan dibangun di tepian kolam tersebut. Sampai sekarang sekolah dasar tersebut masih ada. Pada tahun 2009 kolam susuk juga pernah menjadi lokasi shooting film berjudul “Tanah Air Beta” yang disutradarai oleh Ari Sihasale, dan pada tahun 2012 film berjudul “Atambua 39°C” yang disutradarai oleh Mira Lesmana.

Jarak tempuh dari Atambua menuju Kolam Susuk sekitar 40 menit menggunakan kendaraan roda empat. Kolam Susuk bukan satu-satunya tempat wisata alternatif di Atambua. Di dekat Kolam Susuk terdapat Teluk Gurita, salah satu dermaga penyeberangan di Kabupaten Belu. Jarak antara Kolam Susuk dan Teluk Gurita tidak begitu jauh, hanya sekitar tiga kilometer.

Di sekitar kolam susu juga terdapat tempat bersantai di gazebo, sambil menikmati pemandangan sekitar danau unik ini.