Tenun Baduy yang Bersahaja Namun Mendunia

Awalnya dibuat dan dipakai hanya untuk kalangan sendiri. Kain tenun Baduy bukan sekadar kain penutup tubuh, tapi juga simbol status sosial yang melekat di ragam motifnya. Kini kain tenun Baduy merambah dunia luar, hingga panggung Paris Fashion Week!

Menyusuri perkampungan di Baduy, Kecamatan Leuwidamar, Lebak, Banten merupakan petualangan yang menyenangkan. Nuansanya begitu bersahaja, namun penuh warna. Yang membuatnya menarik, hampir di tiap rumah dan kampung bisa kita temui kaum ibu sedang tekun menenun kain. Menenun merupakan kegiatan rutin wanita Baduy di sela-sela aktivitas sehari-hari mereka seperti berladang. Semua proses menenun dikerjakan secara manual. Dari mulai memintal benang hingga menenun kain, mereka lakukan di teras rumahnya.


Beda Motif, Beda Fungsi
Awalnya tenun masyarakat Baduy hanya dipakai untuk kalangan sendiri. Kain tenun ini bukan hanya sekedar kain penutup tubuh, namun juga menunjukkan status sosial, melekat di tiap ragam motifnya. Namun seiring banyaknya wisatawan yang berkunjung, jadilah produk tenun ini menjadi produk cinderamata. Dan pewarna alami sudah tidak banyak dipergunakan lagi, utamanya bagi masyarakat Baduy Luar. Meski begitu alat tenun yang digunakan masih tradisional.

Keahlian tenun merupakan tradisi turun menurun wanita Baduy. Tenun Baduy, dinamai berbeda-beda, sesuai fungsinya. Ada kain tenun caor, hapit, barera, jinjingan, limbuhan dan lain-lain. Pun begitu dengan motif yang dihasilkan, seperti motif adu mancung, suat songket, suat balingbing dan lainnya.

Untuk motif-motif tertentu disesuaikan dengan peruntukannya. Sarung motif kotak-kotak besar, poleng hideung digunakan oleh kaum lelaki. Kain poleng pepetikan digunakan kaum wanita saat ritual menumbuk padi. Ada kain yg khusus dipakai untuk menutupi orang meninggal yaitu poleng magrib. Dan masih banyak lagi fungsi motif dan peruntukannya.

Oya, bagi masyarakat Baduy ada hari dimana kegiatan menenun dilarang. Ini saat bulan purnama atau tanggal 16 setiap bulannya pada saat ritual 3 bulan kawaluh. Masa ini dianggap sebagai bulan suci bagi masyarakat Baduy. Mereka meyakini pada tanggal tersebut para dewa-dewi sedang menenun sehingga manusia dilarang untuk melakukan kegiatan yang sama. Ini dikenal dengan Pantang Geneup Belas.

Kini keberadaan kain tenun Baduy sudah merambah dunia luar. Tak hanya di sekitar Banten, permintaan dari beberapa negara  seperti Jepang, Vietnam dan Korea Selatan semakin meningkat. Belum lagi dari beberapa negara di Eropa. Dan tenun Baduy pernah loh melenggang di catwalk Paris Fashion Week.  Makin cinta nggak sih sama budaya Indonesia….


Foto : Kodjang